Friday, March 4, 2022

Wajah Cerah Berkat Pond’s Triple Glow Serum

Memiliki wajah cerah sepanjang hari tentu menjadi dambaan kaum wanita. Ketika usia bertambah, perlu perawatan wajah yang optimal menggunakan serum pencerah wajah. Buat kamu yang ingin menggunakan serum pencerah wajah, bisa mencoba Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask, produk perawatan dari Pond’s. Sebagai seorang wanita, aku ingin selalu menjaga kesehatan kulit wajah. Aku percayakan kesehatan kulit wajahku pada Pond’s Triple Glow Serum dan Pond’s Triple Glow Serum Mask. Produk keluaran Pond’s ini diyakini memiliki konsentrat serum pencerah wajah yang lebih efektif dibanding vitamin C, sehingga bisa membuat wajah terasa lebih lembut dan cerah. Makanan yang kita konsumsi sehari-hari juga menunjang kesehatan kulit wajah. Aku juga rajin mengonsumsi buah-buahan seperti apel, jeruk dan pisang untuk menjaga kesegaran kulit. Polusi udara yang kita temui setiap hari, juga bisa mempengaruhi kesehatan kulit wajah. Makanya, aku memilih serum pencerah wajah keluaran Pond’s yang bisa membantu menjaga kecantikan sekaligus menjaga kelembaban tekstur kulit wajahku. Pond’s Triple Glow Serum, mengandung konsentrat serum pencerah wajah yang menggabungkan tiga kekuatan terbaik. Tiga kekuatan yang terkandung dalam serum ini yaitu, Glutathione, vitamin B3+, dan Hyaluronic. Serum pencerah wajah ini dapat membuat kulit wanita terlihat lebih cerah, dan diyakini mampu bekerja 60 kali lebih efektif dibanding vitamin C. Produk ini dapat mencerahkan kulit wajah karena mengandung Gluta-Boost-C yang terdiri dari glutathione, yaitu antioksidan yang mampu mencerahkan kulit. Kandungan serum juga dapat menyamarkan flek hitam sehingga warna kulit nampak merata.
Pond’s Triple Glow Serum juga mengandung vitamin B3+ yang berfungsi melembutkan kulit wajah, serta menyamarkan pori-pori. Di produk Triple Glow Serum juga terdapat kandungan Hyaluronic Acid yang berfungsi melembabkan kulit wajah. Merawat kesehatan kulit membutuhkan waktu dan kesabaran. Tak ada proses instan seperti sulap. Proses perawatan kesehatan kulit wajah ini juga dipengaruhi jenis kulit wajah, faktor makanan yang dikonsumsi, serta kebugaran tubuh. Beberapa temanku yang sudah menggunakan produk Pond’s Triple Glow Serum selama dua minggu memberi rekomendasi. Mereka mengakui pori-pori kulit wajah menjadi lebih kecil, wajah kelihatan lebih cerah dan lembab. Tekstur serum pencerah wajah ini ringan, tidak lengket di tangan, dan lebih cepat meresap. Saat diaplikasikan di wajah, serum ini mudah meresap, gampang diratakan, sehingga wajah terasa lebih kenyal. Siapa yang pengen wajahnya terlihat kinclong, halus dan lembab? sebaiknya rutin menggunakan serum pencerah wajah. Serum pencerah wajah Pond’s Triple Glow Serum juga dapat menyamarkan flek-flek hitam yang umumnya terdapat di kulit wajah saat wanita beranjak dewasa. Cara penggunaannya juga relatif mudah, ambil sebanyak 2-3 tetes serum. Tepuk perlahan di wajah, gunakan jari-jari tangan untuk membantu penyerapan ke kulit secara merata.
Jika kamu merasa wajah terlihat kusam, kamu juga bisa mencoba Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum Mask. Sheet mask ini berfungsi untuk mencerahkan, menghaluskan sekaligus melembapkan kulit. Artis Wendy Red Velvet juga menggunakan masker serum ini, wah ternyata ini menjadi kunci rahasia kulit wajah yang glowing ya. Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum Mask ini juga mengandung Gluta-Boost-C, antioksidan yang berfungsi mencerahkan kulit. Pond’s Triple Glow Serum merupakan salah satu serum pencerah wajah terbaik yang dihadirkan oleh Pond’s Indonesia. Kemasan dengan ukuran kecil tersedia dalam kemasan sachet. Kemasan sachet ini praktis dibawa kemana-mana. Tertarik mencoba? Kamu bisa membeli kemasan sachet untuk produk Pond’s Bright Beauty Triple Glow ukuran 7,5 gram dengan harga sekitar 18 ribu rupiah. Sedangkan harga Triple Glow Serum Mask kemasan sachet ukuran 20 gram berkisar 19 ribu rupiah. Sebagai konsumen, saya selalu berupaya memilih produk kecantikan yang aman bagi kulit wajah. Saya percaya, kecantikan seorang wanita bukan hanya terlihat dari fisik, namun juga terlihat dari kepribadiannya. Istilah cantik luar dalam, memang semestinya dimiliki setiap wanita manapun. Mewujudkan kecantikan secara fisik, dalam hal kesehatan kulit wajah pasti membutuhkan usaha rutin . Tak hanya menggunakan produk kecantikan yang sesuai kulit wajah. Menjaga jenis makanan yang kita konsumsi, rajin minum air putih serta berolahraga secara teratur sangat menunjang kesehatan kulit sepanjang hari.

Sunday, February 20, 2022

Belajar Memetik Ubi di Kuntum Farm Field

 

Di awal tahun 2022, aku dan keluarga berwisata ke obyek wisata Kuntum Farm Field yang terletak di kota Bogor, Jawa Barat. Menurutku Kuntum Farm Field adalah satu tempat wisata bernuansa edukatif. Di sini, kita bisa mengenal sejumlah hewan ternak, mempelajari beberapa jenis tanaman sekaligus melepas penat. Aku sudah pernah mengunjungi tempat wisata ini beberapa kali. Unsur edukasi menjadi magnet yang membuatku tak pernah bosan mengunjungi tempat ini.  Kuntum merupakan tempat belajar yang cocok bagi anak-anak, terutama buat anak TK dan SD.


Di lahan pertaniannya, pengunjung bisa merasakan bagaimana rasanya panen, dan memetik produk pertanian. Tentu, produk pertanian yang bisa dipanen berbeda-beda sesuai masa tanam tumbuhan tertentu. Di bulan Januari, kebetulan ada beberapa jenis Ubi seperti Ubi Ungu, Ubi Jepang, Uji Cilembu yang sudah boleh dipanen. Kita bisa memetik sendiri jenis Ubi yang kita inginkan. Anak-anak bisa belajar menghargai bagaimana proses memetik bahan pangan sebelum dikonsumsi.
Pembayaran dilakukan sesuai berat timbangan. Ada patokan harga yang sudah ditentukan, harga sekilo ubi bervariasi berkisar 7 ribu hingga 12 ribu rupiah.

Sunday, February 6, 2022

Aku Ikut Vaksinasi Booster Covid-19

 

Penyakit Covid-19 masih menjadi ancaman di tahun 2022. Bagi warga yang sudah mengikuti dua kali vaksinasi, dan jarak vaksin kedua dengan waktu akan mengikuti vaksinasi booster sudah mencapai enam bulan, dapat mengikuti vaksin ketiga (vaksin booster). Vaksin booster ini dapat diperoleh di fasilitas kesehatan pemerintah atau sejumlah sentra vaksinasi yang diadakan oleh instansi pemerintah maupun pihak swasta.

Aku sendiri memilih mengikuti vaksinasi booster di salah satu puskesmas. Di puskemas, warga harus datang pagi hari untuk didata atau mendapatkan nomor antrean. Biasanya vaksinasi dimulai pukul 8 pagi. Sebelum dimulai, warga yang akan mengikuti vaksinasi,  diperiksa suhu tubuh, dicek tekanan darah termasuk mengisi data vaksinasi di selembar formulir.


Saat waktu vaksinasi tiba, petugas kesehatan akan memanggil warga satu per satu, dan menanyakan riwayat kesehatan secara umum. Bila tak ada kendala dalam vaksinasi sebelumnya, atau tak punya penyakit komorbid, warga bisa langsung mengikuti vaksinasi.
Aku sendiri mendapatkan vaksin booster bermerek  Pfizer. Alhamdulillah, usai disuntik vaksin, aku tak merasakan dampak yang berarti. Aku sempat merasa mengantuk untuk beberapa jam. Memang, efek suntikan vaksin di tubuh setiap orang berbeda-beda, tidak bisa disamaratakan.

Wednesday, October 6, 2021

Pengalaman Vaksinasi Covid-19 di Puskesmas

 

Halo apa kabar? Rasanya udah lama banget gak nulis di blog. Kali ini aku mau berbagi cerita mengenai pengalaman vaksinasi Covid-19 di puskesmas. Sejak pandemi melanda di awal tahun 2020, kehidupan masyarakat sontak berubah. Hampir semua kegiatan dilakukan secara online, sekolah online, bekerja secara online, dan banyak lagi. Saat itu, belum ada vaksin. Warga melindungi diri dengan menggunakan masker, memakai pelindung wajah atau face shield, dan mengurangi bepergian ke luar rumah.

Memasuki tahun 2021, pemerintah mulai mendatangkan vaksin untuk mencegah penyakit Covid-19.  Di semester pertama 2021, jumlah vaksin Covid-19 masih amat terbatas. Prioritas vaksinasi ditujukan bagi para tenaga kesehatan yang berada di garda depan. Seiring waktu, stok vaksin mulai bertambah, dan dilakukan terhadap warga di Jakarta di sejumlah tempat maupun puskesmas. Pada pertengahan 2021, umumnya jenis vaksin yang digunakan Sinovac dan AstraZeneca. Saat itu aku berkesempatan mengantar kerabatku yang ber-KTP luar DKI Jakarta untuk vaksinasi di puskesmas, yang masih membutuhkan surat pengantar domisili. Aku jadi sibuk bolak balik ke kelurahan dan ketua RT, untuk membuat surat pengantar domisili, sebelum mendaftarkan vaksinasi di puskesmas.


Sekitar bulan Juni 2021, di puskesmas juga tak selalu tersedia vaksin. Ketika mengantar kerabatku, di puskesmas terdekat hanya tersedia vaksin AstraZeneca. Selain itu, jadwal vaksinasinya pun tak setiap hari, dalam sepekan ada 3 hari yang diperuntukkan untuk vaksinasi. Tentunya, hal ini berkaitan dengan jumlah atau stok vaksin yang masih terbatas. Proses vaksinasi di puskesmas relatif simpel, upayakan datang di pagi hari untuk mengambil nomor urut antrean vaksinasi. Apalagi setiap puskemas memiliki kuota masing-masing, terkait jumlah orang yang dapat divaksin. Kemudian mengisi formulir yang sudah disediakan. Selanjutnya menunggu giliran vaksin, dicek suhu badan dan tekanan darah. Waktu vaksinasi, dari mulai menunggu giliran hingga selesai divaksin sekitar satu jam.


Sekitar bulan Juli 2021, pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengijinkan anak usia 12 tahun hingga 17 tahun untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19, khusus menggunakan vaksin Sinovac. Saat aturan ini berlaku, surat keterangan domisili sudah tak diwajibkan lagi. Jadi siapapun yang sudah menjadi sasaran vaksinasi meski ber-KTP luar DKI Jakarta, boleh mengikuti vaksinasi di puskesmas manapun di Jakarta. 


Selain di puskesmas, ada beberapa lokasi vaksinasi yang digunakan pemerintah seperti RPTRA (Ruang publik terpadu ramah anak) dan sejumlah mal. Menurutku, akan lebih baik jika dapat melakukan vaksinasi di puskesmas terdekat. Selain menghemat waktu perjalanan, prosedurnya pun mudah. Semoga stok vaksin bisa segera merata di seluruh Indonesia, karena masih banyak warga yang belum mendapatkan vaksinasi Covid-19. Saat ini merek vaksin Covid-19 yang digunakan semakin beragam, ada Pfizer, Moderna, selain Sinovac dan AstraZeneca. Mencegah lebih baik dari mengobati, semboyan yang mungkin terdengar klise. Memang vaksin bukan obat penyakit. Namun, dengan mengikuti vaksinasi berarti kita sudah melakukan upaya perlindungan diri, ber-ikhtiar agar mencegah terkena penyakit Covid-19.

 

Monday, July 6, 2020

Kisruh PPDB di Sekolah Negeri



PPDB di Sekolah Negeri
Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah negeri di Jakarta, sudah menggunakan sistem online selama beberapa tahun terakhir. Terdapat beberapa jalur masuk bagi siswa yang ingin mendaftar atau melanjutkan pendidikan di sekolah negeri, seperti jalur afirmasi, jalur zonasi, jalur prestasi. Secara khusus, saya ingin membahas jalur zonasi yang kerap menjadi permasalahan. Setiap daerah memiliki sistem seleksi yang berbeda-beda. Bertahun-tahun, jalur zonasi menggunakan nilai UN (nilai ujian nasional) sebagai tolok ukur seleksi penerimaan siswa baru di sekolah negeri di DKI Jakarta. Secara umum misalnya, bila terjadi peningkatan nilai UN SD biasanya akan semakin meningkatkan passing grade atau nilai kelulusan penerimaan di sekolah negeri favorit, atau sekolah yang banyak diminati siswa.

PPDB DI SEKOLAH NEGERI
Ilustrasi Sekolah Negeri

Jalur Zonasi di Jakarta
Jalur zonasi yang digunakan pada 2019 di Jakarta adalah zonasi kelurahan. Siswa diperbolehkan mendaftar bila alamat siswa termasuk dalam daftar kelurahan yang bisa mendaftar pada sebuah sekolah negeri tertentu. Standar seleksi siswa, yang menentukan siswa diterima atau tidak diterima, menggunakan nilai UN (Ujian Nasional).
Patokan nilai UN sebagai dasar seleksi, maka ada nilai batas bawah UN agar siswa tersebut bisa masuk diterima di sekolah tertentu. Di Jakarta misalnya, tahun 2019 lalu secara umum nilai rata-rata UN siswa kelas 6 SD meningkat dibanding nilai UN kelas 6 SD tahun 2018. Dampaknya apa? Di SMP negeri misalnya, kisaran (range) nilai ambang batas bawah hingga nilai ambang batas atas penerimaan siswa meningkat rata-rata 5 hingga 10 poin. Terdapat pergeseran passing grade kisaran nilai UN untuk memasuki sekolah negeri yang banyak peminatnya. Akibatnya, banyak orangtua yang terkecoh, karena data seleksi PPDB 2018 kurang relevan digunakan sebagai patokan bagi siswa lulusan 2019 yang ingin memasuki sekolah negeri tertentu.


PPDB Tahun 2019 vs PPDB Tahun 2020
Pada tahun 2019 lalu, protes orangtua murid terhadap PPDB terjadi di beberapa wilayah. Di Bogor dan Surabaya misalnya, menggunakan sistem zonasi dengan pengukuran jarak tempat tinggal ke sekolah yang menjadi dasar seleksi diterima atau tidak diterima. Banyak orangtua murid protes, karena merasa nilai UN anaknya mencukupi namun gagal diterima di sekolah pilihan.
Tahun 2020 ini, ujian nasional (UN) dihapuskan karena pandemi Covid-19. UN dihapuskan setahun lebih awal dari rencana semula penghapusan UN pada tahun 2021, di sisi lain sistem penilaian baru pengganti UN belum diterapkan pemerintah. Tahun 2020, siswa yang mendaftar di jalur zonasi di Jakarta, dikejutkan dengan patokan seleksi masuk berdasarkan usia calon siswa. Siswa yang berusia lebih tua otomatis diprioritaskan untuk diterima di sekolah negeri yang dituju. Banyak orangtua siswa protes karena anak-anaknya tak diterima di sekolah pilihan, disebabkan usianya kalah tua dari para calon siswa lain. Selain itu, rentang usia maksimal siswa yang diterima juga relatif besar. Pada PPDB tahun ini, siswa berusia 14 tahun masih bisa mendaftar ke kelas 1 SMP, dan siswa berusia 17 tahun masih bisa mendaftar ke kelas 1 SMA. Banyak orangtua murid mengeluhkan, sosialisasi mengenai dasar usia menjadi tolok ukur seleksi penerimaan jalur zonasi pada PPDB 2020 relatif minim. Akibatnya, para orangtua yang mungkin ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta sebagai alternatif harus gigit jari. Kenapa? kebanyakan sekolah swasta sudah mengadakan ujian masuk di awal tahun 2020. Pada saat PPDB sekolah negeri berlangsung, mayoritas pendaftaran di sekolah swasta sudah ditutup atau kalaupun masih ada yang membuka pendaftaran, kuotanya terbatas. 


Adakah Sistem PPDB Ideal?
Berbagai sistem PPDB yang digunakan dalam proses seleksi penerimaan siswa baru di sekolah negeri, kerap menimbulkan pro kontra. Lalu bagaimana sebenarnya sistem yang paling ideal atau paling obyektif untuk digunakan sebagai dasar penerimaan siswa? Apakah dasar seleksi menggunakan usia ini menjadi dasar yang obyektif? Saya pikir, patokan usia ini kurang obyektif. Saya pribadi lebih setuju bila ada ujian bersifat nasional, meski namanya bukan UN. Apakah ujian sekolah atau ujian bersama, dimana menjadi patokan seleksi jalur zonasi. Ujian ini juga bisa digunakan untuk mengukur sejauh mana kualitas pendidikan di Indonesia, agar tak kalah saing dengan anak-anak dari negara lain.