Monday, July 6, 2020

Kisruh PPDB di Sekolah Negeri



PPDB di Sekolah Negeri
Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) di sekolah negeri di Jakarta, sudah menggunakan sistem online selama beberapa tahun terakhir. Terdapat beberapa jalur masuk bagi siswa yang ingin mendaftar atau melanjutkan pendidikan di sekolah negeri, seperti jalur afirmasi, jalur zonasi, jalur prestasi. Secara khusus, saya ingin membahas jalur zonasi yang kerap menjadi permasalahan. Setiap daerah memiliki sistem seleksi yang berbeda-beda. Bertahun-tahun, jalur zonasi menggunakan nilai UN (nilai ujian nasional) sebagai tolok ukur seleksi penerimaan siswa baru di sekolah negeri di DKI Jakarta. Secara umum misalnya, bila terjadi peningkatan nilai UN SD biasanya akan semakin meningkatkan passing grade atau nilai kelulusan penerimaan di sekolah negeri favorit, atau sekolah yang banyak diminati siswa.

PPDB DI SEKOLAH NEGERI
Ilustrasi Sekolah Negeri

Jalur Zonasi di Jakarta
Jalur zonasi yang digunakan pada 2019 di Jakarta adalah zonasi kelurahan. Siswa diperbolehkan mendaftar bila alamat siswa termasuk dalam daftar kelurahan yang bisa mendaftar pada sebuah sekolah negeri tertentu. Standar seleksi siswa, yang menentukan siswa diterima atau tidak diterima, menggunakan nilai UN (Ujian Nasional).
Patokan nilai UN sebagai dasar seleksi, maka ada nilai batas bawah UN agar siswa tersebut bisa masuk diterima di sekolah tertentu. Di Jakarta misalnya, tahun 2019 lalu secara umum nilai rata-rata UN siswa kelas 6 SD meningkat dibanding nilai UN kelas 6 SD tahun 2018. Dampaknya apa? Di SMP negeri misalnya, kisaran (range) nilai ambang batas bawah hingga nilai ambang batas atas penerimaan siswa meningkat rata-rata 5 hingga 10 poin. Terdapat pergeseran passing grade kisaran nilai UN untuk memasuki sekolah negeri yang banyak peminatnya. Akibatnya, banyak orangtua yang terkecoh, karena data seleksi PPDB 2018 kurang relevan digunakan sebagai patokan bagi siswa lulusan 2019 yang ingin memasuki sekolah negeri tertentu.


PPDB Tahun 2019 vs PPDB Tahun 2020
Pada tahun 2019 lalu, protes orangtua murid terhadap PPDB terjadi di beberapa wilayah. Di Bogor dan Surabaya misalnya, menggunakan sistem zonasi dengan pengukuran jarak tempat tinggal ke sekolah yang menjadi dasar seleksi diterima atau tidak diterima. Banyak orangtua murid protes, karena merasa nilai UN anaknya mencukupi namun gagal diterima di sekolah pilihan.
Tahun 2020 ini, ujian nasional (UN) dihapuskan karena pandemi Covid-19. UN dihapuskan setahun lebih awal dari rencana semula penghapusan UN pada tahun 2021, di sisi lain sistem penilaian baru pengganti UN belum diterapkan pemerintah. Tahun 2020, siswa yang mendaftar di jalur zonasi di Jakarta, dikejutkan dengan patokan seleksi masuk berdasarkan usia calon siswa. Siswa yang berusia lebih tua otomatis diprioritaskan untuk diterima di sekolah negeri yang dituju. Banyak orangtua siswa protes karena anak-anaknya tak diterima di sekolah pilihan, disebabkan usianya kalah tua dari para calon siswa lain. Selain itu, rentang usia maksimal siswa yang diterima juga relatif besar. Pada PPDB tahun ini, siswa berusia 14 tahun masih bisa mendaftar ke kelas 1 SMP, dan siswa berusia 17 tahun masih bisa mendaftar ke kelas 1 SMA. Banyak orangtua murid mengeluhkan, sosialisasi mengenai dasar usia menjadi tolok ukur seleksi penerimaan jalur zonasi pada PPDB 2020 relatif minim. Akibatnya, para orangtua yang mungkin ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta sebagai alternatif harus gigit jari. Kenapa? kebanyakan sekolah swasta sudah mengadakan ujian masuk di awal tahun 2020. Pada saat PPDB sekolah negeri berlangsung, mayoritas pendaftaran di sekolah swasta sudah ditutup atau kalaupun masih ada yang membuka pendaftaran, kuotanya terbatas. 


Adakah Sistem PPDB Ideal?
Berbagai sistem PPDB yang digunakan dalam proses seleksi penerimaan siswa baru di sekolah negeri, kerap menimbulkan pro kontra. Lalu bagaimana sebenarnya sistem yang paling ideal atau paling obyektif untuk digunakan sebagai dasar penerimaan siswa? Apakah dasar seleksi menggunakan usia ini menjadi dasar yang obyektif? Saya pikir, patokan usia ini kurang obyektif. Saya pribadi lebih setuju bila ada ujian bersifat nasional, meski namanya bukan UN. Apakah ujian sekolah atau ujian bersama, dimana menjadi patokan seleksi jalur zonasi. Ujian ini juga bisa digunakan untuk mengukur sejauh mana kualitas pendidikan di Indonesia, agar tak kalah saing dengan anak-anak dari negara lain.

Saturday, June 27, 2020

Cara Memperpanjang STNK Saat Pandemi Covid19


STNK kendaraan habis masa berlaku di saat pandemi? Wah, kemana sebaiknya mengurus perpanjangan STNK? Beberapa waktu lalu, saya mengurus perpanjangan STNK ke kantor Samsat. Sebelum berangkat, saya mencari berbagai informasi di internet apakah lebih baik mengurus di mal atau di kantor Samsat. Lalu, saya memutuskan untuk mengurus perpanjangan STNK di salah satu kantor Samsat, karena saya pikir akan lebih cepat selesai mengingat jam buka pelayanan di kantor  sejak pagi hari. Ternyata perkiraan saya benar, apalagi kantor pelayanan Samsat  buka setiap hari Senin hingga Sabtu, sejak pukul 8 pagi. Sedangkan gerai pelayanan STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) yang terdapat di sejumlah mal, mulai buka agak siang sekitar jam 11-12 mengikuti jam buka mal.
CARA MEMPERPANJANG STNK
Protokol Kesehatan di Kantor Samsat

Saya tiba di kantor Samsat sekitar pukul 7.30 pagi. Saat itu, antrean tidak terlalu padat meski terlihat cukup ramai. Sesuai protokol kesehatan untuk pencegahan penyakit Covid19 di saat masa PSBB transisi, setiap pengunjung atau siapapun yang akan mengurus perpanjangan surat kendaraan wajib mengikuti protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan bersih sebelum memasuki ruangan , pemeriksaan suhu tubuh, melewati bilik disinfektan. Perlu diingat juga, wajib pakai masker di lingkungan kantor Samsat.

Loket pengurusan surat kendaraan roda dua dan roda empat terpisah, di ruangan yang relatif besar. Tentu hal ini sangat membantu masyarakat, untuk menghindari penumpukan atau kerumunan saat mengantre. Hanya saja bangku di ruang tunggu memang terbatas, sebagian warga mesti mengantre sambil berdiri.  Setelah mengisi formulir perpanjangan STNK yang disediakan, kita bisa langsung mengantre di loket pengumpulan formulir.

CARA MEMPERPANJANG STNK
Pengisian Formulir

Jangan lupa membuat fotokopi dokumen-dokumen yang diperlukan sebelum berangkat, agar tak repot mencari tempat fotokopi di lokasi. Dokumen yang wajib difotocopi adalah KTP, STNK serta BPKB (Bukti Pembelian Kendaraan Bermotor). Sertakan pula KTP asli dan STNK asli untuk pengecekan di loket pendaftaran.

Monday, June 8, 2020

Peran Orangtua Saat Anak Ujian Daring



Belajar dari Rumah
Sejak penerapan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di Jakarta pada pertengahan bulan Maret 2020 lalu, proses pembelajaran dialihkan dari pertemuan fisik di sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh dari rumah siswa atau melalui sistem daring. Proses pembelajaran di rumah dikenal juga dengan istilah Home Learning.

Peran Orangtua Saat Anak Ujian Daring
Ilustrasi: dok. pribadi

Sistem Daring (Online)
Pembelajaran jarak jauh (sistem daring) tentu memiliki sejumlah konsekuensi. Bila di Jakarta, jaringan internet bisa dibilang relatif lancar. Sedangkan di daerah pelosok, jaringan internet belum tentu lancar setiap saat. Sistem pembelajaran jarak jauh, mendorong orangtua kreatif dalam mendampingi proses pendidikan putra putrinya. Meski guru mengawal proses belajar sehari-hari, pada dasarnya siswa siswi dituntut disiplin mengerjakan dan mengumpulkan tugas yang diberikan.

Peran Orangtua Saat Anak Ujian Daring
Ilustrasi: dok. pribadi

Peran Orangtua
Otomatis peran orangtua di rumah bertambah, mendampingi proses belajar sekaligus menjalankan peran seperti layaknya guru sekolah. Kondisi semacam ini perlu disiasati agar tak membebani anak-anak maupun para orangtua. Proses pendidikan jarak jauh membutuhkan kedisiplinan tinggi, apalagi bila suasana belajar di rumah terasa seperti liburan. Anak biasanya merasa bebas menentukan kapan mau bermain dan kapan mesti belajar. Para orangtua perlu menyiapkan anak-anak menghadapi ujian daring, dan mendukung proses pembelajaran dengan baik. Misalnya mempelajari pelajaran sekolah setiap hari seperti biasa. Jangan sampai anak-anak belajar mepet mendekati waktu ujian.

Sunday, May 31, 2020

Apa yang Mesti Dipersiapkan Menghadapi Situasi “New Normal”?



Istilah “New Normal”
Bagi saya pribadi, istilah “New Normal” atau kondisi kenormalan baru yang digaungkan pemerintah lebih mengarah terhadap upaya menormalisasi kegiatan perekonomian, aktivitas pemerintahan, maupun kegiatan sosial di masyarakat. Aktivitas bisnis misalnya bisa dijalankan kembali, namun dengan menjalankan prosedur kesehatan yang ketat. Menurut saya, situasi sekarang ini, belum lah normal seperti sediakala. Di saat status pandemi penyakit Covid-19 belum dicabut oleh badan kesehatan dunia (WHO), virus corona baru (Novel Corona Virus) tetap menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Virus yang menyerang sistem pernafasan manusia ini, mesti tetap diwaspadai. Terlebih, seseorang yang menderita penyakit ini bisa menunjukkan gejala atau bahkan tanpa gejala, alias orang tanpa gejala (OTG).
 

Persiapan Menghadapi “New Normal”
Penyakit Covid-19 yang disebabkan virus corona baru (Novel Corona Virus) merupakan penyakit menular. Oleh karena itu, pada kondisi apapun atau ketika aktivitas sosial masyarakat sudah kembali berjalan. Masker tetap wajib dipakai saat bepergian atau keluar rumah. Mencuci tangan harus rajin dilakukan, termasuk membawa cairan pembersih tangan kemanapun.
I think the situation is not normal anymore, like it used to be. The New Normal disini berarti, kita sebagai manusia mesti mempersiapkan diri menjalani kehidupan, berdampingan dengan virus penyebab Covid-19 ini. The virus is still out there. Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu hal penting. Selain melanjutkan perilaku hidup sehat yang sudah dilakukan selama ini, tentu perlu menjaga kesehatan diri dan kesehatan keluarga kita masing-masing.

Persiapan menghadapi new normal
Dok. Pribadi
Menjaga Kesehatan Menjadi Hal Terpenting
Kenapa menjaga kesehatan dan stamina tubuh menjadi sangat penting? Insya Allah, ketika tubuh dalam kondisi fit, kita tidak  mudah terserang penyakit. Mengikuti anjuran dokter, mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak sayur dan buah, serta minum vitamin. Selain berolahraga, minum madu juga menjadi favorit saya, untuk menjaga kebugaran tubuh. Cukup tidur dan cukup istirahat. Pandai membagi waktu,  bisa membatasi diri kapan harus belajar, bekerja atau bermain. Selebihnya, tentu saja berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari segala penyakit. 

Tuesday, October 15, 2019

Bijak Bermedsos di Masa Kini


Bermain Media Sosial
Bijak bermedsos mungkin terdengar klise di telinga kita akhir-akhir ini. Coba menengok ke belakang, beberapa tahun silam. Di awal tahun 2000an, penggunaan internet mulai berkembang di Indonesia. Perlahan satu per satu, platform media sosial marak digunakan. Media sosial mulai akrab bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Mulai dari Friendster dan Path yang sudah tutup, hingga Facebook platform terpopuler di Indonesia. Lalu diikuti aneka ragam platform lainnya, seperti Whatsapp, Instagram, Twitter. Kini hampir dua dekade berjalan. Jelang penghujung tahun 2019, konon sikap atau perilaku orang menggunakan media sosial belum banyak berubah.

Terlepas dari pandangan pribadi, kepercayaan atau agama yang dianut. Sebagai pengguna media sosial, saya mengamati masih banyak orang yang saling kritik tanpa ber-etika. Kalau zaman dulu, istilahnya asal nge-jeplak, atau mungkin lebih populer dengan sebutan nyinyir di zaman sekarang. Banyak kritikan atau komentar diunggah tanpa pikir-pikir dulu. Makanya marak slogan sosialisasi di ruang publik seperti “Think before sharing” atau “Think before posting”. 
Bijak Bermedsos di Masa Kini
Source: Pixabay

Saya pribadi menggunakan media sosial, sebagai sarana mencari informasi. Informasi apapun yang dirasa bermanfaat buat kehidupan saya sehari-hari. Baik soal masakan, tips kesehatan, cara berolahraga dan sesekali mengikuti gosip artis. Walaupun, rasanya tiap saat, tiap detik, selalu banjir informasi. Informasi yang berlimpah di lini media sosial membuat kita perlu menyaring, mana saja informasi yang benar atau informasi bohong alias berita hoaks. Memang, setiap orang punya hak dan kebebasan pribadi untuk menggunakan media sosial yang dimilikinya. Malah sebagian orang punya lebih dari satu akun di media sosial tertentu. Apakah akun media sosial tsb digunakan untuk kepentingan pribadi, kepentingan bisnis atau menjadi hal bermanfaat buat komunitas. Tentu, kita juga perlu berhati-hati sebelum meneruskan informasi apapun yang diperoleh. Bersikap cermat dan waspada rasanya bisa menjadi pegangan, buat siapapun yang aktif menggunakan media sosial.