Tuesday, June 14, 2016

Bergaya dengan Jilbab ala Indojilbab


Jilbab Warna Warni


Aneka Jilbab di Indojilbab dot com
Hari gini masih bingung mencari jilbab dan busana muslim, mending coba beli di salah satu toko jilbab online, www.indojilbab.com. Kebetulan Indojilbab dot com, toko jilbab online dimiliki Anugerah, seorang kawan lamaku yang menetap di kota Bogor, Jawa Barat. Indojilbab menyediakan beragam model jilbab yang digemari berbagai kalangan masa kini.
Anugerah bersama suaminya,Hendra, memulai usaha sejak tujuh tahun lalu, selepas lulus kuliah dari sebuah universitas swasta di kota Jakarta. Anugerah merintis dan menjalankan usaha dari rumahnya, sehingga tak perlu repot memikirkan kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi. Sebuah pilihan usaha yang menjanjikan. 


Tampilan Website Indojilbab


Aneka jilbab yang dijual di toko virtualnya berasal dari berbagai pemasok. Ada stok jilbab yang memang dibeli putus, konsinyasi, ada pula stok jilbab yang didesain sendiri dan dipercayakan untuk dijahit di penjahit langganan. Anugerah memilih nama merek Almasah untuk merek jilbab hasil karya desainnya.

Dulu, diawal merintis usahanya, Anugerah kerap berbelanja sendiri stok jilbab di pasar tanah abang Jakarta, salah satu pusat grosir pakaian dan tekstil terbesar di Indonesia. Kini seiring pertumbuhan usaha, Anugerah lebih memilih mencari stok jilbab melalui toko daring atau via telpon, tinggal pesan dan menunggu barang diantar hingga ke rumah. Lebih efektif lho, gak perlu bermacet-macet ria di jalan, apalagi biasanya pasar tanah abang penuh sesak pengunjung. 


Jilbab Model Pashmina


Omzet usaha jilbabnyapun lumayan menambah pundi-pundi. Hmm sebuah usaha yang patut ditiru nih, apalagi pemerintah kita sedang menggalakkan rakyatnya untuk giat berwirausaha. Kapan yaa saya bisa punya usaha toko online...lho kok jadi curcol hehehe
Nah, warna-warni jilbab koleksi Indojilbab dot com sangat bervariasi. Model jilbab untuk perempuan dewasapun beraneka ragam, ada model segi tiga, model segi empat, dan model instan. 


Jilbab Model Segi Empat


Aneka busana muslimah juga tersedia, mulai dari blus, bawahan, setelan dan sarimbit, serta jilbab untuk anak-anak. Termasuk aneka aksesori yang mempercantik busana seperti bros, manset dan ciput. Pengalaman pribadi sebagai pelanggan setia nih, saya pernah membeli beberapa model jilbab untuk dikenakan di hari istimewa, hari raya Idul Fitri. Selain untuk dipakai sendiri, tak lupa saya membelikan untuk kerabat termasuk beberapa buah sebagai hadiah untuk teman. 
 

Aneka Ciput


Harga Jilbab Terjangkau
Harga sebuah jilbab di sini amat bervariasi, mulai dari 11 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah. Harga busana muslim berkisar mulai dari 50 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah per potong. Sedangkan harga bros mulai dari 5 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah per buah.
Tak jarang, Anugerah memberikan potongan harga atau diskon untuk model jilbab tertentu. Diskon biasanya diberikan di momen bulan Ramadhan, termasuk momen hari-hari besar Islam dan pada akhir tahun.

Sunday, June 5, 2016

Goyang Lidah di Resto Pempek 161




Pempek Adaan ala Resto 161



Pempek Makanan Khas Palembang 
Pempek? (baca: mpek-mpek).....wow kalau bicara makanan yang satu ini, rasanya lidah saya ikut bergoyang.
Kali ini saya mau ngebahas salah satu restoran favorit saya yang menyajikan pempek dan otak-otak sebagai menu utamanya. Bila anda pecinta makanan, tentu sering mendengar kawasan Kelapa Gading sebagai salah satu surga kuliner di Jakarta. Nah, restoran Pempek dan Otak-Otak 161 terletak di kawasan Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. Letak restorannya sejajar dengan mal Kelapa Gading, persisnya di deretan ruko di jalan Bulevar Raya.

Ruko Resto Pempek 161

Bisa dibilang, saya sudah mencicipi bolak-balik menu pempek, otak-otak dan teman-temannya di resto ini lebih dari sepuluh tahun yang lalu, dari zaman kuliah...sampai sekarang saya sudah berbuntut dua hehe...
Ini pandangan pribadi lho, menurut saya Pempek 161 ini yang rasanya paling mirip dengan Pempek Palembang asli yang bisa kita beli di berbagai warung atau resto pempek yang bertebaran di se-kota Palembang.


Suasana Resto Pempek 161

Menuruti kata hati, saya seperti bisa merasakan mana pempek yang bener-bener enak, dalam arti terasa ikannya dibandingkan dengan pempek yang sekedar berisi balutan tepung. Ya iyalah wong lidah saya sudah biasa terkena cuko pempek sejak masih balita hehehe :)
Buat saya, pempek seperti mendarah daging. Ntahlah mungkin karena kebetulan saya dilahirkan di kota Palembang, Sumatera Selatan, yang notabene terkenal sebagai kota pempek. Kadang saya merasa gen , DNA atau apapun namanya yang berkaitan dengan pempek “Wong Kito Galo” seperti menyatu dengan diri saya hehe...



Gak heran, seingat saya, dulu pempek di kota Palembang dijajakan dari rumah-ke rumah layaknya penjual siomay keliling di Jakarta. Jadi, rasanya bener tuh kalau ada orang yang bilang, orang Palembang makan pempek setiap hari seperti makan nasi saja.

Di Palembang sendiri, pempek dijual dari warung pempek sederhana hingga restoran pempek yang memiliki belasan cabang di berbagai sudut kota. Harga pempek berkisar mulai dari seribu rupiah hingga belasan ribu rupiah per buah.
Nah di resto Pempek 161 ini, saya paling suka pempek pepaya, yang didalamnya berisi irisan buah pepaya yang diracik sedemikian rupa.  Rasanya campuran antara manis dan gurih, sedapnya...

Pempek Pepaya

Sunday, May 29, 2016

A New Life Without Appendix (Hidup Baru Tanpa Usus Buntu)



The Moment of The Surgery

Sumber: Shutterstock

Sorot lampu di meja operasi itu membuat jantung saya berdegup lebih kencang, keberanian yang saya kumpulkan hari demi hari seolah pupus saat itu. Saat  dokter spesialis anestesi menyuntikkan obat bius spinal melalui tulang belakang tubuh saya, saya tak mampu menutupi kekhawatiran dan rasa takut, meskipun saya pernah menjalani dua kali operasi melahirkan caesar sebelumnya. Hal yang sangat manusiawi...

Tentu, saya atau siapapun rasanya tak mau mati konyol dalam arti mati sia-sia karena keteledoran manusia...berita-berita mengenai pasien yang meninggal dunia, yang diduga kuat karena dampak obat bius anestesi yang tertukar isinya dengan obat lain beberapa waktu lalu, masih melekat erat di benak saya.

Bahkan sebelum operasi dilakukan, saya sempat bertanya bolak-balik kepada dokter spesialis bedah yang menangani mengenai obat bius (anestesi) yang akan dipakai, termasuk bertanya langsung dengan pihak apotek rumah sakit tersebut. Meski semua keterangan menguatkan, bahwa pihak rumah sakit tidak menggunakan lagi obat-obatan anestesi yang diduga menjadi penyebab kematian pasien yang terkait kasus tersebut, tetap saja diri saya diliputi rasa khawatir.

Seingat saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit hingga separuh tubuh saya tepatnya bagian bawah tubuh saya, benar-benar terasa baal, hingga tak merasakan apapun.  Hati saya mulai tenang, obat bius bekerja dengan baik, selang oksigen dipasang melalui lubang hidung, alat pendeteksi denyut jantung dipasang, termasuk selang kateter untuk mengalirkan urine.

Another thing, for those who hasn’t been experience with the operation room situation, please be ready for being naked in front of the doctor, medical practitioner and the nurse. This is a standard procedure.  
Saya hanya ingin sekedar berbagi saja, supaya kalau sewaktu-waktu teman pembaca blog harus menjalani operasi untuk pertama kalinya, gak terkaget- kaget. Jangan sampai gara-gara hal yang sepertinya sepele, semisal rasa malu (atau malu-maluin yah) ruang operasi jadi geger. Hi hi...

Berbeda dengan bius total dimana pasien dikondisikan “tertidur”, dengan bius spinal saya berada dalam kondisi sadar penuh, meskipun tak bisa melihat langsung proses operasi. Tubuh saya diberi pembatas (selubung) di bagian dada. Setidaknya saya bisa merasakan detik demi detik saat operasi berlangsung. Terkadang saya mencoba curi-curi pandang melalui bayangan yang memantul di lampu operasi, yang untungnya bayangannya agak nge-blur...coba kalo bayangannya jernih, bisa jadi saya malah pingsan. Oow...

Sumber: Shutterstock

Untungnya juga, para perawat di ruang operasi humoris, suka bercanda sehingga mampu membuat saya lebih tenang dan rileks menghadapi operasi. Yaa mungkin juga, karena sehari-hari mereka berkutat dengan konsentrasi dan ketelitian tingkat tinggi. Ngobrol dengan pasien menjadi salah satu metode untuk mengurangi ketegangan di dalam ruang operasi.

Sumber: Shutterstock


Operasi pengangkatan usus buntu saya, memakan waktu sekitar satu jam. Untungnya radang usus buntu yang saya alami, tidak ada absesnya (nanah) dan belum terjadi perforasi ( luka radang usus buntunya belum pecah. Kendala atau faktor penyulit yang terjadi saat operasi, hanya ada perlengketan sebagian usus buntu di dinding perut. Ternyata nih, kondisi radang usus buntu saya yang sudah akut !, baru ketahuan saat operasi berlangsung, kata dokter bedahnya. Jadi, kondisi radang usus buntu yang saya alami bukan kronis seperti yang saya duga semula, meski gejala nyerinya timbul tenggelam. Lagi-lagi untungnya hehe....dapet penyakit kok masih aja ngomong “untungnya”...I could be dying...


Jelang Operasi
Sebagai persiapan menghadapi operasi, saya (pasien) harus berada dalam kondisi tubuh yang sehat. Operasi tidak dapat dilakukan ketika kondisi tubuh sedang sakit. Tentu, menjaga stamina tubuh menjadi prioritas utama. Termasuk mengonsumsi makanan sehat, memasak sendiri makanan sehari-hari. Saya sama sekali gak jajan atau beli makanan dari luar sekitar tiga minggu jelang operasi lho, kira-kira sejak saya divonis menderita penyakit radang usus buntu. Sehari-hari saya biasa mengonsumsi tahu tempe, sayur bayam, tumis buncis dan wortel. Bisa dibayangkan kan bagaimana nikmatnya mengonsumsi makanan tanpa sambal, rasanya seperti sayur kurang garam  atau bunga tanpa kumbang yaa  hehe...Jadi bukan cuma ujian yang butuh persiapan. Anything happened in our life needs preparation.

 
Menu Sehat

Sebelum dirawat inap, saya menjalani tes laboratorium untuk mengecek darah rutin termasuk mengecek lama waktu pembekuan dan waktu perdarahan, karena kondisi ini yang bisa menyebabkan komplikasi dalam sebuah operasi. Saya  juga menjalani tes EKG (Elektrokardiogram) untuk merekam kerja jantung, tepatnya irama jantung, mendeteksi apakah denyut jantung normal atau ada gangguan.

Alhamdulillah semua tes menunjukkan kondisi normal, sehingga saya bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Yaa namanya juga punya penyakit, ingin rasanya cepet-cepet “membuang” biang penyakitnya tho...

Setelah masuk rawat inap, ada beberapa tahapan yang saya jalani. Sebagai pasien yang akan menjalani operasi, kita dipasangi terminal infus. Suntikan tepat di jalur pembuluh darah untuk mengalirkan obat-obatan sebelum, saat dan setelah operasi. Suntikan dilakukan di punggung telapak tangan, rasanya lumayan aargh...
Selain itu, dilakukan tes alergi antibiotik dengan suntikan dibawah kulit tangan, yang ini suntikannya lebih terasa...


Terminal Infus

Ikhlas menjalani semua proses, membuat rasa sakit karena suntikan hilang seketika,  disuntik seakan menjadi hal biasa buat saya. Persiapan operasi termasuk puasa total, tidak boleh makan dan minum minimal 7 jam sebelum operasi.

Menginformasikan kondisi kesehatan tubuh kita yang seutuhnya menjadi hal esensial, seperti jenis obat-obatan  yang membuat kita alergi atau alergi terhadap sesuatu hal. Termasuk riwayat kesehatan, misal apakah kita pernah mengalami hipertensi, asam urat, asma, diabetes dll. Bukan apa-apa, petugas medis dan dokter membutuhkan informasi mengenai kondisi pasien yang detil dan sebenar-benarnya, untuk meminimalisir faktor risiko komplikasi saat operasi. That’s the rule

Saturday, May 7, 2016

Appendicogram (Rontgen untuk Memotret Kondisi Usus Buntu)



Menjalani Appendicogram

Jujur awalnya saya bingung mesti mulai nulis darimana, cuma yang saya ingin tulis ini gak berbau ilmiah, definisi atau hal-hal formal yang terkait penyakit ya. Saya hanya ingin berbagi, sedikit berkontemplasi mungkin...bahwa penyakit bisa datang kapan saja, sesehat apapun kita menjaga gaya hidup sehari-hari. Kadang penyakit gak selalu terdeteksi (atau memang gak bisa terdeteksi) dari pemeriksaan kesehatan rutin atau cek lab rutin. Banyak kan penyakit yang memang baru ketahuan setelah sakitnya sudah parah atau sudah memasuki stadium sekian, yaa karena di awal penyakit tersebut muncul di tubuh kita, tak ada gejala, tidak menunjukkan sesuatu hal yang membuat kita ingin periksa ke dokter. Beberapa penyakit tertentu seperti kanker dan tumor baru terasa, atau ketahuan setelah penyakit itu menjadi kronis atau akut. Hmm

Satu hal lagi, sebenarnya saya males banget buat nulis hal berbau pribadi di blog saya, tapi setelah saya baca berbagai blog atau cerita orang yang pernah mengalami hal ini, dan dukungan beberapa teman. Saya jadi terdorong untuk sekedar berbagi, yang mudah-mudahan bisa menyadarkan siapapun untuk lebih aware akan kesehatannya. 


Apa....positif radang usus buntu? Dueng, dunia saya seakan berputar, jagad raya ini bergetar di pikiran saya. Meskipun saya punya feeling ada sesuatu yang berbeda di tubuh (perut) saya, agak shock juga lho ketika hasil radiologi (appendicogram) mendukung dugaan itu di penghujung bulan April lalu. Malah sebelumnya, saya sempat berpikir jangan-jangan ada cacing besar yang berjalan-jalan dalam perut saya hehehe aneh ya. Gejala nyeri-nyeri di perut bagian kanan bawah memang rancu. Buat perempuan, gejala semacam itu acapkali mirip dengan gejala penyakit di bagian ovarium atau indung telur.

Buat saya, penyakit ini seperti ‘teguran’ Tuhan agar saya lebih dan lebih lagi berhati-hati menjaga tubuh, dan organ-organ lainnya yang sudah dipinjamkan untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.  Kita sebagai manusia kan hanya bisa berencana, berusaha dan berdoa. It happened, for sure!

Penyakit semacam ini gak ketahuan lho sama hasil medical check up rutin yang sempat saya jalani dua kali, sekitar 3-4 tahun yang lalu. USG (UltraSonography) juga tidak selalu membantu, karena posisi usus buntu ,yang sering disebut umbai cacing ini, letaknya cukup tersembunyi dibalik organ usus besar dan organ lainnya. Sebelumnya, saya sering merasakan nyeri di perut bagian kanan bawah dalam 2-3 bulan terakhir.  Seingat saya, nyeri sudah terasa, sering timbul tenggelam sejak setahun yang lalu. Saya sendiri juga gak tau persis apakah proses usus buntu meradang ini memang membutuhkan waktu bertahun-tahun? Atau apa bisa, radang usus buntu terjadi dalam waktu yang singkat? Hanya butuh beberapa bulan atau beberapa minggu saja. Menurut pemikiran saya, penyakit-penyakit semacam ini butuh waktu yang agak lama sih.

Menjalani tes radiologi (appendicogram), membuat semuanya menjadi lebih jelas dan akurat. Pasien diminta untuk meminum cairan bubuk barium pada tengah malam sebelum dirontgen. Nah kalau usus buntu kita normal, maka hasil radiologi tersebut akan berwarna putih, yang tandanya cairan berhasil memasuki usus buntu. Bila hasilnya gelap (hitam), tidak ada warna, berarti ada sesuatu hal, benda atau zat (massa) yang menghalangi cairan tersebut masuk ke dalam usus buntu kita.

 


Dugaan Penyebab Radang Usus Buntu

Saya pribadi memang suka makanan pedas, tapi yaa gak gila-gila amat. Kalau makan sambal, bijinya pasti saya buang, cuma dicocol-cocol aja. Jambu biji malah gak pernah, gak doyan sama sekali, kecuali jus jambu yang bijinya udah dibuang ya. Dari beberapa sumber, cerita orang, atau  blog yang saya baca di internet. Kebanyakan orang mempertanyakan apakah riwayat atau kebiasaan suka makan cabai atau jambu biji memicu radang usus buntu. Banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut hanya mitos, namun bisa jadi benar adanya pada beberapa kasus. Dari beberapa kajian mahasiswa keperawatan yang saya baca, diduga kuat biji-bijian yang kita konsumsi sulit dicerna organ pencernaan di dalam tubuh. Jadi,menurut analisis (asumsi) saya pribadi nih, makanan yang bentuknya keras atau padat seperti kacang, keripik, dan semacamnya bila tidak terkunyah dengan halus, membuat organ pencernaan di dalam tubuh bekerja ekstra keras dan tak selalu mampu diserap tubuh, sehingga dapat memicu terjadinya radang usus buntu.