Saturday, March 24, 2018

Sisi Jenaka Customer Service


Sisi Jenaka Customer Service
Hai semua, kali ini saya mau ngobrolin soal rupa-rupa pengalaman terkait pelayanan yang diberikan mbak-mbak maupun mas-mas di lini customer service atau pelayanan pelanggan.
Ini bukan obrolan serius
dan bukan nyinyir juga, saya cuma mau ngebahas serba serbi jenis layanan pelanggan sesuai fakta yang pernah saya alami, that’s it. Konon tipikal orang Indonesia pada umumnya dikenal ramah di mata orang bule. Namun, menurut saya pada kenyataannya  masih banyak hal-hal yang kudu dibenahi, khususnya terkait sistem pelayanan terhadap para konsumen atau pelanggan. Mayoritas orang Indonesia memang ramah dan murah senyum. Namun dalam aspek pelayanan terhadap konsumen atau pelanggan butuh lebih dari sekedar senyum manis hehehe.


sisi jenaka customer service
sumber: Pixabay

Customer Service Butuh Credit Point
Rasanya, setiap orang pernah mengalami kejadian yang mungkin kurang menggenakkan, kurang pas, atau mungkin justru pengalaman buruk saat berhubungan dengan pihak-pihak di lini customer service. Saya sendiri relatif sering mengalami hal-hal lucu terkait hal ini. Misalnya suatu hari saya pernah pesan makanan di counter sebuah bioskop. Ceritanya begini,  secara saya berpikir positif, saya hanya bilang pesan popcorn 1 box, tanpa menyebutkan ukurannya. Staf customer service tau-tau memberikan box popcorn yang relatif besar, tanpa ba bi bu. Ealah ndelalah kok pas mau bayar, saya ditagih hampir 3 kali lipat dari harga normal karena ternyata ukuran box popcornnya jumbo. Sebenarnya dalam hati saya ada rasa curiga, saya mikir sepertinya ini cara staf tsb supaya dapat credit (nilai tambah) di mata perusahaan karena berhasil mendongkrak penjualan. Menurut saya, mestinya caranya gak gitu yaa. Staf customer service bisa bertanya dengan sopan sebelum nota di print out di mesin kasir, misal “Ibu mau jenis popcorn dan ukuran yang mana? Saya juga paham kok, buat staf sales maupun staf customer service, jumlah penjualan baik secara kuantitas maupun nilai penjualan menjadi tolok ukur kesuksesan. Untungnya pada saat itu, saya dalam kondisi membawa cukup uang dan lagi-lagi saya males memperpanjang masalah. Rasanya praktek yang dilakukan semacam ini bisa terjadi di berbagai penjualan produk lain. Bagi saya, metode seperti ini ibarat membohongi atau menjebak konsumen secara halus. 

sisi jenaka customer service
sumber: Pixabay

Adalagi pengalaman  yang saya alami terkait credit point. Ceritanya di sebuah gerai operator telekomunikasi saya mau mencari informasi tentang cara berganti paket langganan. Pada hari itu, saya dilayani oleh mbak X yang menjelaskan harganya sekian untuk paket internet xxx. Lalu 2 minggu kemudian saya datang lagi untuk mengganti paket langganan.  Sesuai nomor antrean, mbak customer service yang melayani saya berbeda. Sebut saja, mbak Y. Nah mbak Y ini bilang, kalau pakai nomor baru alias beli nomor perdana, baru bisa beli paket internet xxx tsb, dan kalau menggunakan nomor lama paketnya agak berbeda dengan harga sekian plus plus. Pada saat itu saya langsung mikir, waduh bagaimana ya kok gak ada standar penjelasan informasi buat konsumen? Apa iya, ada kesalahan pemberian informasi saat pertama kali saya bertanya. Atau memang, mbak yang bertugas ingin memperoleh credit point karena berhasil menjual paket internet yang lebih mahal buat konsumen? Ntahlah. Memang dasar saya males memperpanjang masalah, meski dalem hati  rasanya dongkol hihi. 

sisi jenaka customer service
sumber: Shutterstock

Label Harga Berbeda
Pengalaman lain mengenai perbedaan harga di label produk dengan harga di komputer kasir. Buibuk kudu waspada saat berbelanja di supermarket atau minimarket. Seringkali price tag atau barcode produk promo belum diupdate sesuai iklan. Mungkin juga pihak penjual gak bermaksud membohongi, namun karena keterbatasan sistem menyulitkan update label harga per produk. Dulu, saya pernah bertanya ke staf customer service & kasir, mereka memang mengakui belum sempat atau gak mungkin sempat mengupdate price tag berkala setiap hari. Ya, secara terdapat puluhan atau bahkan ratusan produk yang dijual, pasti merepotkan. Bisa jadi, sistem manajemen pelabelan harga produk yang belum sempurna  atau memang ada keterbatasan saking banyaknya produk yang dijual. Lagi-lagi, kita sebagai konsumen mesti ekstra jeli saat berbelanja. Beberapa tahun silam, ayah saya pernah beli pasta gigi merek A ternyata pas tiba di rumah isinya berbeda, pasta gigi merek B. Ya memang belum tentu pihak minimarket yang alpa, tapi bisa juga pihak " konsumen nakal" yang menukar barang saat berbelanja, who knows.

Sunday, March 4, 2018

Bajay is My Favourite Vehicle



Public Transportation in Jakarta
Nowadays, there are several kinds of public transportation in the city of Jakarta. There are several types of buses without air conditioner, that still operating until now such as Metromini and Kopaja. There is Metromini, the regular bus with the orange colour. There are several buses like Kopaja with the white green colour.  There is also smaller minibus called “Mikrolet” and “Angkot”. Mikrolet & Angkot usually provide for short and medium routes.  Some regular buses are also still operating until now. But some of them have been disappeared because of the transformation in the transportation system in Jakarta.

foto transportasi mutie
Metromini & Kopaja
Today or in the last few years, Jakarta has a better transportation system called transjakarta bus. It is connecting the bus with some fix routes and certain bus stop, also with special way in some roads. Well I think it is a better way to take a city tour, especially for people who come to Jakarta for the first time. The transjakarta bus connected some areas in Jakarta and to the border of Jakarta, Bekasi and Tangerang; also there are special bus to Bogor city. Transjakarta charges around 3500 rupiah for one trip; you don’t have to pay more if you are not going out from the bus station.

foto transportasi mutie
TransJakarta Bus & Commuter Line Train

Jakarta also has a commuter line train, the train that connects the jabodetabek area from Jakarta, Bekasi, Tangerang and Bogor city. The ticket price is also affordable, less than fifteen thousand rupiah. Compare to the year around 1990s, at that time the public transportations was very limited. People did not have many choices in the past. The problems included the infrastructure, the bus stop, and the number of the bus. It was a familiar view, that we saw buses full of people, like “pepesan” in the slang language.

foto transportasi mutie
Regular Ojek
How I love the bajay
As a local citizen, I usually go to some places by public transportation. Why? Because it usually faster, then I don’t have to drive by myself, release the stress from driving in the traffic jam. Traffic jam can makes me get headache, for sure. Of all the public vehicles, but what I like most is the Bajay, the 3 cycles vehicle that operates in certain areas. It is turn out from the orange typical colour to the blue one with BBG in the last few years. The sound of the blue bajay is not noisy as the orange bajay in the past. 

foto transportasi mutie
Bajay, my favourite

Monday, January 29, 2018

Pilih Menikah atau Melajang ?



Mending Nikah atau Jomblo
Dulu saat saya masih remaja di akhir era tahun 90an, pernikahan menjadi salah satu bucket list ketika saya dan teman-teman membicarakan mengenai mimpi masa depan. Setelah menyelesaikan sekolah, what next? Ada yang memilih kuliah,  bekerja dulu baru menikah, adapula yang ingin langsung menikah habis kuliah. Intinya, pada saat itu hampir semua mimpi teman perempuan saya, ingin menikah dan membangun keluarga saat usia menginjak 25an. Zaman di mana radio, televisi dan majalah masih menjadi acuan utama alias referensi bagi masa remaja kami. Tapi di masa kini, eranya sudah berubah. Pengaruh lingkungan dan media sosial nampaknya memiliki peran yang cukup kuat dalam mempengaruhi keputusan seseorang.

pilih menikah atau melajang
sumber: Shutterstock

Bagaimana anak zaman now yang sudah berusia 25 tahunan memandang pernikahan. It depends, very personal. Apalagi zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi, banyak anak muda yang suka curcol tentang kehidupan asmaranya di berbagai media sosial. Kalau diperhatikan,  di masa kini ternyata anak muda umur 25an gak semua pengen buru-buru nikah. Dari beberapa teman atau kerabat, kebanyakan dari mereka memilih mengejar karir terlebih dahulu. Hal lain, salah satu bucket list anak muda zaman now rasanya berwisata sesukanya dulu sampai puas, baru memikirkan pernikahan.

pilih menikah atau melajang
sumber: Shutterstock


Menjalani hidup dengan bebas tanpa diatur-atur pasangan sambil berwisata ke berbagai kota seolah menjadi gambaran umum anak muda masa kini. Bisa dibilang semakin banyak anak muda yang berpikiran terbuka, dalam arti terbuka atas aneka pilihan bagi hidupnya. Meski di sisi lain, ada pula anak muda yang lekas menikah usai menyelesaikan pendidikannya, atau bahkan kuliah sambil menikah berjalan bersamaan. Kira-kira berapa persen ya anak muda zaman sekarang yang memilih menikah di usia 25an atau justru menunda usia pernikahannya? menarik juga sih kalau beneran ada penelitiannya hehe, who knows? Jadi pilih menikah atau melajang? 


Peran Ortu vs Lingkungan
Bagi masyarakat Indonesia, peran orang tua masih dominan mempengaruhi pandangan hidup anak-anaknya. Saya jadi teringat sebuah obrolan dengan Ayah yang tertanam di benak saya, bahwa gak ada yang salah dengan status single seseorang bahkan hingga usianya melewati masa-masa keemasan pernikahan. Masa keemasan ini diartikan para orang tua bahwa secara biologis, seorang perempuan sebaiknya menikah dan melahirkan anak sebelum usia 35 tahun karena berkaitan dengan siklus masa subur. Sejak remaja, saya sudah sering mendapat cerita dari para orang tua bahwa ada banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang untuk menunda menikah. Mungkin orang tersebut memang memilih hidup sendiri, nyaman dengan diri sendiri, atau bahkan trauma dengan pengalaman orang lain dsb. Tapi memang tiap budaya memiliki pakemnya masing-masing, apalagi pandangan masyarakat umum di Indonesia terhadap pernikahan semacam standar yang dibakukan. Seperti kalau sudah cukup umur, selesai kuliah dan sudah bekerja, next berarti saatnya menikah.

pilih menikah atau melajang
sumber: Shutterstock
Bagaimanapun namanya juga orang Indonesia, yang kental adat istiadat dan budayanya. Kadang justru lingkungan sosial yang mempengaruhi atau “ikut campur” mendesak seseorang untuk segera menikah, aneka sindiran biasa terdengar seperti “jangan terlalu pemilih lah” , “nanti ketuaan lho” dsb. Kalau dipikir-pikir, kadang manusia ribet sendiri ngurusin hidup orang lain. Nanti kalau ada sesuatu dalam pernikahan orang tersebut atau pernikahannya gak berjalan sebagaimana harapan, apa iya mau ikut bertanggung jawab :)
Di sisi lain, jangan menganggap enteng arti pernikahan, karena pernikahan bukan sekedar menyatukan dua hati berbeda, pun penyatuan dua keluarga besar, sifat, sikap, kebiasaan dll. Belum lagi kalau sudah memiliki anak. Dashyat lah perubahan yang terjadi, menyandang status sebagai orangtua bukan seperti pasangan muda yang lagi kasmaran, atau bisa seenaknya  jalan-jalan dan bebas pergi ke luar rumah. Tentu ada tanggung jawab lebih yang dituntut, ketika seseorang sudah menjadi orang tua.

Status Menikah vs Melajang
Lalu apa artinya status menikah atau melajang bagi anak muda zaman sekarang. Apalagi, banyak juga anak-anak muda zaman sekarang  yang lebih memilih menunda usia pernikahan. Sebagian anak muda yang sudah cukup umur dan memiliki penghasilan sendiri beralasan merasa nyaman hidup sendiri, tidak mau terburu-buru, menikmati menjalani hidup sendiri sebelum bertemu sosok yang bisa meruntuhkan hatinya. Ciye sok puitis yah...Yang jelas apapun pilihan hidup yang kita ambil, kita harus menyadari segala konsekuensinya dan bagaimana menjalani dengan hati riang. Kadangkala kalau diperhatikan, sebagian teman yang masih single merasa gak nyaman berada di tengah-tengah percakapan teman yang sudah menikah atau memiliki anak. Adapula beberapa teman berstatus jomblo yang malas datang ke acara pernikahan, karena khawatir malah jadi bahan gosip, atau diserbu pertanyaan seperti “kapan menyusul?”. Tentu jadi serba salah kan, kalau kita gak bisa menempatkan diri sebagaimana semestinya. Sebaiknya, apapun status yang kita sandang tetap saling menghormati dan menghargai status orang lain. Kalau orang asing umumnya gak peduli status seseorang, gak suka ngurusin dapur orang, urusan pribadi atau kehidupan personal orang lain. Biasanya orang asing juga gak nyaman bila ditanya seputar kehidupan personal, semisal “sudah menikah belum”, “sudah punya pacar belum”, dst. Beda dengan tipikal masyarakat Indonesia, yang suka banget mikirin urusan orang hahaha. Dari beberapa teman, saya memperoleh sejumlah alasan yang memicu pilihan hidup mereka, antara lain kegagalan pasangan muda lain, kegagalan pernikahan diantara teman-teman sepermainan mereka atau kisah artis kawin cerai yang tersebar luas, seakan menakuti mimpi mereka untuk mencapai happy ending dalam membangun mahligai pernikahan.

Monday, January 22, 2018

Pengalaman Menjadi Voice Over Talent



Serba-Serbi Menjadi Voice Over Talent
Halo, mengawali cerita di tahun 2018 ini saya ingin berbagi pengalaman selama menjadi voice over talent untuk program berita televisi. Teman-teman udah tau kan? Di setiap program berita biasanya selalu ada jenis berita yang diberi voice over atau berita yang sudah direkam terlebih dahulu oleh pengisi suara. Istilah yang jamak dipakai di dunia pertelevisian adalah dubbingan, apakah sebuah berita sudah didubbing atau ada berita yang perlu dire-dubb, direvisi karena perubahan naskah berita. Memang agak sulit mencari padanan kata ganti yang pas dari Voice Over Talent maupun Dubber, namun selama ini di Indonesia kerap digunakan istilah pengisi suara atau sulih suara. Di Indonesia, istilah dubber nampaknya lebih familiar.

voice over talent
sumber: Shutterstock


Sebenarnya istilah Voice Over bukan hanya milik industri televisi, namun industri penyiaran secara umum yang bisa disajikan dalam berbagai format. Misalnya voice over untuk iklan komersial atau television commercial ( TVC), voice over untuk iklan layanan masyarakat atau public service announcement  (PSA). Termasuk juga voice over untuk mengisi suara karakter film animasi, sandiwara radio, voice over untuk tutorial penggunaan suatu produk tertentu dan banyak lagi jenisnya. Di tulisan ini, saya sertakan juga beberapa contoh voice over di program berita yang saya dubbing, termasuk produk dummy alias contoh voice over yang saya buat pada iklan komersial dan iklan kampanye publik.

voice over talent
sumber: koleksi pribadi
Karakter Suara Voice Over Talent Beragam
Buat saya pribadi, karakter suara manusia tidak ada yang jelek. Semua karakter suara bisa dimanfaatkan sebagai voice over asalkan sesuai dengan jenis berita atau iklan maupun karakter program yang ingin ditampilkan. Apakah perlu suara perempuan atau laki-laki? Lalu bagaimana karakter suara yang diinginkan? Apakah karakter suara kekanak-kanakan, karakter suara dewasa, suara yang tegas atau suara yang lembut. Atau karakter yang perlu dialek bahasa suku tertentu, dan banyak lagi. Kadang saya suka gemes sendiri, kalau mendengar teman yang belum mencoba sudah bilang seperti ini “ aduh, suaraku jelek” , atau “aku gak bisa dubbing”. Buat saya pribadi, berlatih menjadi pengisi suara harus dicoba berulang kali. Lha wong belum juga berlatih atau mencoba mengulang latihan, kok udah pasrah dan nyerah wkwkwk. Berlatih gak cukup belasan kali, mungkin perlu seratus kali, it takes time. Apalagi zaman sekarang, teknologi makin canggih. Berlatih dan merekam suara sendiri cukup pakai ponsel, dan bisa dilakukan sesukanya dimana saja.



Well, menurut saya semua keahlian sulih suara atau pengisi suara (Voice Over Talent atau Dubber) ini bisa dilatih. Keahlian yang bisa dipelajari semua orang dari berbagai kalangan. Keahlian melakukan Voice Over bukan eksklusif milik para profesional yang berkecimpung di dunia penyiaran semata. Meski mayoritas program berita di stasiun televisi menggunakan voice over dari para jurnalisnya atau karyawannya. Pekerjaan voice over talent di sebuah stasiun televisi, ibaratnya seperti job desk tambahan. Sedangkan sebagian besar pekerjaan Voice Over Talent atau Dubber di dunia penyiaran secara umum, konon merupakan  pekerjaan freelance atau part time job, biasanya dubber menerima honor sesuai proyek. Artinya masih banyak peluang bagi masyarakat untuk terjun ke dunia sulih suara. Menjadi seorang  Voice Over Talent atau Dubber tak terhalang usia lho. Salah satu contohnya para dubber untuk tokoh-tokoh di film kartun Doraemon, semuanya orang dewasa bukan anak-anak. Kekurangan yang dimiliki seseorang seperti pengucapan atau pelafalan huruf r yang kurang sempurna, atau biasa disebut cadel, juga tak menutup rejeki seseorang untuk berprestasi di bidang penyiaran. Banyak juga penyiar radio yang sukses meski memiliki kekurangan tersebut. Lagi-lagi, kebutuhan Voice Over sangat spesifik tergantung keunikan suara masing-masing.


Lihat saja di era tahun 2000an, bermunculan Youtuber atau Vlogger yang berhasil memikat hati para penonton setianya. Ini artinya dunia digital, multimedia atau dunia audio video ini terbuka bagi siapapun yang mau dan berani mencoba. Tentunya perlu disesuaikan dengan karakter diri ya, gak perlu ikut-ikutan gaya orang lain. Sudah banyak terbukti kan, sejumlah artis atau orang biasa memperoleh job alias ketiban rezeki karena sering memunculkan keahlian mereka di media sosial. Gak ada salahnya kok mengikuti langkah positif mereka. Contoh lain, banyak orang biasa yang berbakat menyanyi bikin rekaman lagu atau menggunakan aplikasi smule yang gak kalah sama penyanyi aslinya. Banyak juga para penyanyi profesional yang mengawali karirnya mulai dari menyanyikan lagu milik orang lain (cover song) di channel Youtube. Menurut saya, apapun keahlian yang dimiliki bisa dieksplor secara positif dan ditampilkan dalam media sosial. Misalnya memasak, membuat prakarya, melukis, membuat kaligrafi, dll.  I believe that for positive contributions, there is no limit & there is no boundaries on the digital world.


Kembali ke dunia per-dubber-an tadi, kalau di Indonesia saya belum menemukan komunitas berskala nasional yang mewadahi para Voice Over Talent, Dubber atau orang-orang yang memiliki minat serupa untuk memperluas peluang kerjasama. Apa saya yang #kudet ya hihihi. Ada beberapa komunitas yang saya temui di internet, namun rasanya belum merangkul atau mewadahi para Voice Over Talent atau Dubber se-Indonesia. Beberapa platform yang saya temui di internet, sifatnya lebih seperti bidding proyek alias tender. Sepertinya belum ada platform yang mewadahi dan mempertemukan pihak dubber dan klien yang bener-bener pas buat masyarakat Indonesia. Wah bisa jadi ide bisnis nih :)

Kunci Menjadi Voice Over Talent
Balik lagi ke pengalaman pribadi. Menurut saya, beberapa kunci dasar dalam mendubbing naskah berita seperti, pelafalan atau pengucapan kata harus jelas, intonasi harus tepat, tone atau nada suara harus sesuai, bagaimana menyelami naskah. Yaa, menjadi seorang pengisi suara perlu memahami isi naskah. Saya kadang seperti berkhayal atau bermain drama, tergantung naskah beritanya. Merupakan hal penting untuk bisa ikut merasakan kesedihan atau kegembiraan naskah. Misalnya ketika mengisi suara untuk naskah bertema kesedihan, seperti profil kakek yang tinggal di gubug bekas kandang kambing, nada suara kita juga harus bisa memunculkan aura kesedihan tsb. Tentunya, sebagai Voice Over Talent wajib mempelajari hal-hal baru, melatih vokal, teknik pernafasan, cara bicara, aksen dll. Terlebih lagi bila melakukan voice over dalam bahasa asing atau menggunakan istilah asing.

Monday, December 4, 2017

Cantik Berkat Operasi Plastik ?



Cantik Berkat Operasi Plastik
Viralnya pemberitaan foto gadis asal Iran bernama Sahar Tabar yang konon melakukan operasi plastik atau bedah plastik menarik perhatian dunia. Bayangkan, puluhan media Internasional ternama dari berbagai negara mempublikasikan soal operasi plastik yang diklaim dilakukan Sahar Tabar. Fotonya viral dalam sekejap pada 30 November 2017 lalu, dan sempat menjadi salah satu trending topic selama 3 hari di media sosial. Media terkenal Inggris seperti The Sun dan The Daily Mail menulis bahwa, Sahar Tabar, gadis asal Iran ini diklaim oleh media Belgia telah menjalani bedah plastik hanya dalam waktu beberapa bulan, agar wajahnya dapat menyerupai artis Amerika idolanya Angelina Jolie. Sebuah akun yang diduga sebagai akun Instagram resmi miliknya menampilkan berbagai pose diri selfie dengan wajah yang nampak aneh, cenderung menyeramkan. Sejumlah orang menduga, foto Sahar merupakan hasil editan photoshop ditambah kecanggihan polesan make up. Ada dugaan, gadis ini memakai perlengkapan tiruan (palsu) yang ditempelkan di wajahnya. Terlepas dari wajahnya yang asli hasil bedah plastik atau wajah “palsu” karena make up dan kecanggihan software editing. Di media sosial seperti twitter dan instagram, banyak orang mengulas fotonya. Sejumlah orang di media sosial, mengulas bentuk bibir, wajah, rahang, dagu dan hidung Sahar yang nampak berbeda-beda dari satu foto ke foto lainnya.

Foto Sahar Tabar (sumber: Instagram)
Analisa saya kalau melihat foto-fotonya, gadis ini terlihat memakai contact lens, dan wajahnya terlihat seperti hasil make up karakter. Anehnya, belum ada satupun media asing yang memperoleh klarifikasi resmi dari Sahar Tabar mengenai pemberitaan dirinya tersebut. Sejumlah media asing mengakui kesulitan memperoleh konfirmasi langsung dari Sahar. Apakah Sahar menikmati popularitas yang singkat ini? Apa iya gadis ini  ingin terkenal sejagad raya melalui media sosial. Atau justru dirinya sedang merasa terpuruk karena menjadi pembicaraan orang se-dunia? Sejak fotonya viral, jumlah followers instagramnya berlipat ganda. Pemberitaannya sensasional, menampilkan foto-foto perubahan drastis seorang Sahar Tabar. Bayangkan, apa ini sekedar gimmick semata untuk mendongkrak popularitas demi meraup keuntungan pribadi, Who Knows? Anything exceptional can go viral on the internet, right?
Di luar pemberitaan, kebenaran bahwa gadis ini melakukan operasi plastik (oplas ) atau tidak, atau foto-fotonya berupa rekayasa atau editan semata. Justru ide untuk menyerupai artis Angelina Jolie yang menggelitik pikiran saya. Apa iya saking cintanya sama sang idola, bisa membuat seseorang sedemikian obsesif ? Kok bisa yaa ada orang yang sebegitunya nge-fans dengan seseorang dan rela melakukan apa saja demi terlihat semirip mungkin atau serupa dengan bintang idolanya. Bukan mempermasalahkan apakah gadis ini punya dana trilyunan dollar untuk menjalani bedah plastik kecantikan yang notabene memakan biaya relatif mahal. Atau malah, gadis ini menjalani operasi gratis sebagai barter untuk mempromosikan dokter bedahnya, whatever...terlalu banyak kemungkinan disini. Yang jelas, gadis ini sudah berhasil memviralkan dirinya melalui media sosial. Saya sih menyayangkan, miris kalau memang benar gadis Iran, Sahar Tabar, melakukan bedah plastik yang membuat wajahnya berubah 360 derajat. Ekspresi wajahnya hasil bedah plastik terlihat tidak alami, ibaratnya wajah terlihat kaku untuk digerakkan. 

Foto Sahar Tabar (sumber: Twitter)

Kalau saya pribadi sih ogah terlihat cantik melalui bedah plastik, mau digratisin kek apalagi disuruh bayar. Say no to cosmetic plastic surgery.  Menurut pandangan saya, bedah plastik masih bisa diterima asalkan dengan alasan medis. Banyak kasus di dunia yang memang membutuhkan operasi bedah plastik, seperti bagi korban kecelakaan, bagi korban kebakaran, bagi korban aksi kriminal.
Beberapa contoh public figure asing yang hasil operasi plastiknya gagal seperti dialami perancang busana Donatella Versace, dan sosialita Jocelyn Wildenstein.


Foto Artis Gagal Oplas (sumber: womansday.com)
Sebagai manusia kita gak mungkin melawan kodrat alami, melawan kuasa Tuhan. Setiap orang pasti akan menua, perubahan fisik pasti akan terjadi sekeras apapun kita berupaya melawannya. Iya, program melawan penuaan pastinya dilakukan perempuan sedunia hihi. Tapi ya, sebisa mungkin jangan mengambil tindakan ekstrim beresiko. Kalau suka baca berita, sejak dulu banyak terjadi bedah plastik yang gagal, atau dampak buruk akibat bedah plastik baru muncul setelah beberapa tahun. Misalnya bedah plastik yang banyak dilakukan artis-artis luar negeri membuat wajah mereka malah menjadi aneh dan menyeramkan. Adapula pemasangan implan silikon payudara, yang bocor dan justru menjadi penyakit kanker. 

sumber: shutterstock
Beauty is pain? Really? Saya kok kurang suka dengan kiasan ini yaa. Memang sesuai prosedur operasi bedah plastik untuk kecantikan, selama dan pasca bedah plastik, pasien perlu menjalani serangkaian terapi. Ada prosedur pemulihan seperti tidak boleh melakukan gerakan tertentu. Tapi yaa mosok sih demi meraih predikat “cantik”, seseorang harus rela wajah atau tubuhnya di obrak abrik pisau bedah plastik. Saya sih gak mau. Semoga saja remaja-remaja di Indonesia gak ketularan hal semacam ini ya. Bahwa masih banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk berprestasi atau menjadi bahan pembicaraan di dunia internasional. 

Makna Cantik
Apa sih definisi kecantikan menurut kamu? Kalau saya pribadi, setuju dengan kata kecantikan itu relatif. Iya relatif, tergantung dari sudut pandang siapa yang menilai. Meski kecantikan itu mengandung dua makna, kecantikan dari dalam hati dan kecantikan nampak luar alias kecantikan fisik. Masyarakat tentu memiliki beragam definisi kecantikan, namun di setiap budaya dan negara tertentu biasanya terdapat stereotipe arti kecantikan. Kecantikan yang dianggap universal, diterima umum bahwa sosok seseorang cantik. Di Korea Selatan misalnya, kecantikan perempuan diartikan sebagai sosok yang berkulit putih terang, berhidung mancung dan bermata bulat besar. Di Afrika, kecantikan perempuan terlihat dari ukuran tubuhnya, semakin besar konon ditenggarai semakin cantik.

sumber: Pixabay
Mengapa ya kok ada orang yang rasanya sulit sekali mensyukuri segala anugerah dan karunia yang sudah diberikan oleh Tuhan. Mengapa harus meniru dan menjadi seperti sosok orang lain yang dianggap cantik? Bukannya, pepatah Be Your Self sangat bermakna bagi kaum perempuan? Setiap budaya pastinya punya konstruksi sosial mengenai arti kecantikan. Tapi apa iya karena sesuatu hal yang diterima umum menjadi kewajaran, selalu tepat dijadikan patokan? Seberapa penting mempercantik diri dengan bedah plastik?

Orang bilang, perempuan kudu cantik luar dalam, ya secara fisik maupun kepribadiannya.
Ngomongin hal ini kok saya jadi ingat dulu waktu zaman SD, saat eyang putri dari pihak Ibu saya masih hidup. Waktu itu, saya sering diajari menarik ujung hidung, dijepit dengan dua jari biar tambah mancung. Kadang malah, saya iseng ikutin temen-temen, saya jepit ujung hidung pakai jepitan jemuran dalam beberapa detik. Jadi geli sendiri kalo mengingat kelakuan dulu. Yaa meski hanya iseng, saya pernah jadi “korban” stereotipe pada zamannya bahwa perempuan cantik adalah yang berhidung mancung hihi. Namanya juga usaha yah :)