Monday, January 29, 2018

Pilih Menikah atau Melajang ?



Mending Nikah atau Jomblo
Dulu saat saya masih remaja di akhir era tahun 90an, pernikahan menjadi salah satu bucket list ketika saya dan teman-teman membicarakan mengenai mimpi masa depan. Setelah menyelesaikan sekolah, what next? Ada yang memilih kuliah,  bekerja dulu baru menikah, adapula yang ingin langsung menikah habis kuliah. Intinya, pada saat itu hampir semua mimpi teman perempuan saya, ingin menikah dan membangun keluarga saat usia menginjak 25an. Zaman di mana radio, televisi dan majalah masih menjadi acuan utama alias referensi bagi masa remaja kami. Tapi di masa kini, eranya sudah berubah. Pengaruh lingkungan dan media sosial nampaknya memiliki peran yang cukup kuat dalam mempengaruhi keputusan seseorang.

pilih menikah atau melajang
sumber: Shutterstock

Bagaimana anak zaman now yang sudah berusia 25 tahunan memandang pernikahan. It depends, very personal. Apalagi zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi, banyak anak muda yang suka curcol tentang kehidupan asmaranya di berbagai media sosial. Kalau diperhatikan,  di masa kini ternyata anak muda umur 25an gak semua pengen buru-buru nikah. Dari beberapa teman atau kerabat, kebanyakan dari mereka memilih mengejar karir terlebih dahulu. Hal lain, salah satu bucket list anak muda zaman now rasanya berwisata sesukanya dulu sampai puas, baru memikirkan pernikahan.

pilih menikah atau melajang
sumber: Shutterstock


Menjalani hidup dengan bebas tanpa diatur-atur pasangan sambil berwisata ke berbagai kota seolah menjadi gambaran umum anak muda masa kini. Bisa dibilang semakin banyak anak muda yang berpikiran terbuka, dalam arti terbuka atas aneka pilihan bagi hidupnya. Meski di sisi lain, ada pula anak muda yang lekas menikah usai menyelesaikan pendidikannya, atau bahkan kuliah sambil menikah berjalan bersamaan. Kira-kira berapa persen ya anak muda zaman sekarang yang memilih menikah di usia 25an atau justru menunda usia pernikahannya? menarik juga sih kalau beneran ada penelitiannya hehe, who knows? Jadi pilih menikah atau melajang? 


Peran Ortu vs Lingkungan
Bagi masyarakat Indonesia, peran orang tua masih dominan mempengaruhi pandangan hidup anak-anaknya. Saya jadi teringat sebuah obrolan dengan Ayah yang tertanam di benak saya, bahwa gak ada yang salah dengan status single seseorang bahkan hingga usianya melewati masa-masa keemasan pernikahan. Masa keemasan ini diartikan para orang tua bahwa secara biologis, seorang perempuan sebaiknya menikah dan melahirkan anak sebelum usia 35 tahun karena berkaitan dengan siklus masa subur. Sejak remaja, saya sudah sering mendapat cerita dari para orang tua bahwa ada banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang untuk menunda menikah. Mungkin orang tersebut memang memilih hidup sendiri, nyaman dengan diri sendiri, atau bahkan trauma dengan pengalaman orang lain dsb. Tapi memang tiap budaya memiliki pakemnya masing-masing, apalagi pandangan masyarakat umum di Indonesia terhadap pernikahan semacam standar yang dibakukan. Seperti kalau sudah cukup umur, selesai kuliah dan sudah bekerja, next berarti saatnya menikah.

pilih menikah atau melajang
sumber: Shutterstock
Bagaimanapun namanya juga orang Indonesia, yang kental adat istiadat dan budayanya. Kadang justru lingkungan sosial yang mempengaruhi atau “ikut campur” mendesak seseorang untuk segera menikah, aneka sindiran biasa terdengar seperti “jangan terlalu pemilih lah” , “nanti ketuaan lho” dsb. Kalau dipikir-pikir, kadang manusia ribet sendiri ngurusin hidup orang lain. Nanti kalau ada sesuatu dalam pernikahan orang tersebut atau pernikahannya gak berjalan sebagaimana harapan, apa iya mau ikut bertanggung jawab :)
Di sisi lain, jangan menganggap enteng arti pernikahan, karena pernikahan bukan sekedar menyatukan dua hati berbeda, pun penyatuan dua keluarga besar, sifat, sikap, kebiasaan dll. Belum lagi kalau sudah memiliki anak. Dashyat lah perubahan yang terjadi, menyandang status sebagai orangtua bukan seperti pasangan muda yang lagi kasmaran, atau bisa seenaknya  jalan-jalan dan bebas pergi ke luar rumah. Tentu ada tanggung jawab lebih yang dituntut, ketika seseorang sudah menjadi orang tua.

Status Menikah vs Melajang
Lalu apa artinya status menikah atau melajang bagi anak muda zaman sekarang. Apalagi, banyak juga anak-anak muda zaman sekarang  yang lebih memilih menunda usia pernikahan. Sebagian anak muda yang sudah cukup umur dan memiliki penghasilan sendiri beralasan merasa nyaman hidup sendiri, tidak mau terburu-buru, menikmati menjalani hidup sendiri sebelum bertemu sosok yang bisa meruntuhkan hatinya. Ciye sok puitis yah...Yang jelas apapun pilihan hidup yang kita ambil, kita harus menyadari segala konsekuensinya dan bagaimana menjalani dengan hati riang. Kadangkala kalau diperhatikan, sebagian teman yang masih single merasa gak nyaman berada di tengah-tengah percakapan teman yang sudah menikah atau memiliki anak. Adapula beberapa teman berstatus jomblo yang malas datang ke acara pernikahan, karena khawatir malah jadi bahan gosip, atau diserbu pertanyaan seperti “kapan menyusul?”. Tentu jadi serba salah kan, kalau kita gak bisa menempatkan diri sebagaimana semestinya. Sebaiknya, apapun status yang kita sandang tetap saling menghormati dan menghargai status orang lain. Kalau orang asing umumnya gak peduli status seseorang, gak suka ngurusin dapur orang, urusan pribadi atau kehidupan personal orang lain. Biasanya orang asing juga gak nyaman bila ditanya seputar kehidupan personal, semisal “sudah menikah belum”, “sudah punya pacar belum”, dst. Beda dengan tipikal masyarakat Indonesia, yang suka banget mikirin urusan orang hahaha. Dari beberapa teman, saya memperoleh sejumlah alasan yang memicu pilihan hidup mereka, antara lain kegagalan pasangan muda lain, kegagalan pernikahan diantara teman-teman sepermainan mereka atau kisah artis kawin cerai yang tersebar luas, seakan menakuti mimpi mereka untuk mencapai happy ending dalam membangun mahligai pernikahan.

Monday, January 22, 2018

Pengalaman Menjadi Voice Over Talent



Serba-Serbi Menjadi Voice Over Talent
Halo, mengawali cerita di tahun 2018 ini saya ingin berbagi pengalaman selama menjadi voice over talent untuk program berita televisi. Teman-teman udah tau kan? Di setiap program berita biasanya selalu ada jenis berita yang diberi voice over atau berita yang sudah direkam terlebih dahulu oleh pengisi suara. Istilah yang jamak dipakai di dunia pertelevisian adalah dubbingan, apakah sebuah berita sudah didubbing atau ada berita yang perlu dire-dubb, direvisi karena perubahan naskah berita. Memang agak sulit mencari padanan kata ganti yang pas dari Voice Over Talent maupun Dubber, namun selama ini di Indonesia kerap digunakan istilah pengisi suara atau sulih suara. Di Indonesia, istilah dubber nampaknya lebih familiar.

voice over talent
sumber: Shutterstock


Sebenarnya istilah Voice Over bukan hanya milik industri televisi, namun industri penyiaran secara umum yang bisa disajikan dalam berbagai format. Misalnya voice over untuk iklan komersial atau television commercial ( TVC), voice over untuk iklan layanan masyarakat atau public service announcement  (PSA). Termasuk juga voice over untuk mengisi suara karakter film animasi, sandiwara radio, voice over untuk tutorial penggunaan suatu produk tertentu dan banyak lagi jenisnya. Di tulisan ini, saya sertakan juga beberapa contoh voice over di program berita yang saya dubbing, termasuk produk dummy alias contoh voice over yang saya buat pada iklan komersial dan iklan kampanye publik.

voice over talent
sumber: koleksi pribadi
Karakter Suara Voice Over Talent Beragam
Buat saya pribadi, karakter suara manusia tidak ada yang jelek. Semua karakter suara bisa dimanfaatkan sebagai voice over asalkan sesuai dengan jenis berita atau iklan maupun karakter program yang ingin ditampilkan. Apakah perlu suara perempuan atau laki-laki? Lalu bagaimana karakter suara yang diinginkan? Apakah karakter suara kekanak-kanakan, karakter suara dewasa, suara yang tegas atau suara yang lembut. Atau karakter yang perlu dialek bahasa suku tertentu, dan banyak lagi. Kadang saya suka gemes sendiri, kalau mendengar teman yang belum mencoba sudah bilang seperti ini “ aduh, suaraku jelek” , atau “aku gak bisa dubbing”. Buat saya pribadi, berlatih menjadi pengisi suara harus dicoba berulang kali. Lha wong belum juga berlatih atau mencoba mengulang latihan, kok udah pasrah dan nyerah wkwkwk. Berlatih gak cukup belasan kali, mungkin perlu seratus kali, it takes time. Apalagi zaman sekarang, teknologi makin canggih. Berlatih dan merekam suara sendiri cukup pakai ponsel, dan bisa dilakukan sesukanya dimana saja.



Well, menurut saya semua keahlian sulih suara atau pengisi suara (Voice Over Talent atau Dubber) ini bisa dilatih. Keahlian yang bisa dipelajari semua orang dari berbagai kalangan. Keahlian melakukan Voice Over bukan eksklusif milik para profesional yang berkecimpung di dunia penyiaran semata. Meski mayoritas program berita di stasiun televisi menggunakan voice over dari para jurnalisnya atau karyawannya. Pekerjaan voice over talent di sebuah stasiun televisi, ibaratnya seperti job desk tambahan. Sedangkan sebagian besar pekerjaan Voice Over Talent atau Dubber di dunia penyiaran secara umum, konon merupakan  pekerjaan freelance atau part time job, biasanya dubber menerima honor sesuai proyek. Artinya masih banyak peluang bagi masyarakat untuk terjun ke dunia sulih suara. Menjadi seorang  Voice Over Talent atau Dubber tak terhalang usia lho. Salah satu contohnya para dubber untuk tokoh-tokoh di film kartun Doraemon, semuanya orang dewasa bukan anak-anak. Kekurangan yang dimiliki seseorang seperti pengucapan atau pelafalan huruf r yang kurang sempurna, atau biasa disebut cadel, juga tak menutup rejeki seseorang untuk berprestasi di bidang penyiaran. Banyak juga penyiar radio yang sukses meski memiliki kekurangan tersebut. Lagi-lagi, kebutuhan Voice Over sangat spesifik tergantung keunikan suara masing-masing.


Lihat saja di era tahun 2000an, bermunculan Youtuber atau Vlogger yang berhasil memikat hati para penonton setianya. Ini artinya dunia digital, multimedia atau dunia audio video ini terbuka bagi siapapun yang mau dan berani mencoba. Tentunya perlu disesuaikan dengan karakter diri ya, gak perlu ikut-ikutan gaya orang lain. Sudah banyak terbukti kan, sejumlah artis atau orang biasa memperoleh job alias ketiban rezeki karena sering memunculkan keahlian mereka di media sosial. Gak ada salahnya kok mengikuti langkah positif mereka. Contoh lain, banyak orang biasa yang berbakat menyanyi bikin rekaman lagu atau menggunakan aplikasi smule yang gak kalah sama penyanyi aslinya. Banyak juga para penyanyi profesional yang mengawali karirnya mulai dari menyanyikan lagu milik orang lain (cover song) di channel Youtube. Menurut saya, apapun keahlian yang dimiliki bisa dieksplor secara positif dan ditampilkan dalam media sosial. Misalnya memasak, membuat prakarya, melukis, membuat kaligrafi, dll.  I believe that for positive contributions, there is no limit & there is no boundaries on the digital world.


Kembali ke dunia per-dubber-an tadi, kalau di Indonesia saya belum menemukan komunitas berskala nasional yang mewadahi para Voice Over Talent, Dubber atau orang-orang yang memiliki minat serupa untuk memperluas peluang kerjasama. Apa saya yang #kudet ya hihihi. Ada beberapa komunitas yang saya temui di internet, namun rasanya belum merangkul atau mewadahi para Voice Over Talent atau Dubber se-Indonesia. Beberapa platform yang saya temui di internet, sifatnya lebih seperti bidding proyek alias tender. Sepertinya belum ada platform yang mewadahi dan mempertemukan pihak dubber dan klien yang bener-bener pas buat masyarakat Indonesia. Wah bisa jadi ide bisnis nih :)

Kunci Menjadi Voice Over Talent
Balik lagi ke pengalaman pribadi. Menurut saya, beberapa kunci dasar dalam mendubbing naskah berita seperti, pelafalan atau pengucapan kata harus jelas, intonasi harus tepat, tone atau nada suara harus sesuai, bagaimana menyelami naskah. Yaa, menjadi seorang pengisi suara perlu memahami isi naskah. Saya kadang seperti berkhayal atau bermain drama, tergantung naskah beritanya. Merupakan hal penting untuk bisa ikut merasakan kesedihan atau kegembiraan naskah. Misalnya ketika mengisi suara untuk naskah bertema kesedihan, seperti profil kakek yang tinggal di gubug bekas kandang kambing, nada suara kita juga harus bisa memunculkan aura kesedihan tsb. Tentunya, sebagai Voice Over Talent wajib mempelajari hal-hal baru, melatih vokal, teknik pernafasan, cara bicara, aksen dll. Terlebih lagi bila melakukan voice over dalam bahasa asing atau menggunakan istilah asing.

Monday, December 4, 2017

Cantik Berkat Operasi Plastik ?



Cantik Berkat Operasi Plastik
Viralnya pemberitaan foto gadis asal Iran bernama Sahar Tabar yang konon melakukan operasi plastik atau bedah plastik menarik perhatian dunia. Bayangkan, puluhan media Internasional ternama dari berbagai negara mempublikasikan soal operasi plastik yang diklaim dilakukan Sahar Tabar. Fotonya viral dalam sekejap pada 30 November 2017 lalu, dan sempat menjadi salah satu trending topic selama 3 hari di media sosial. Media terkenal Inggris seperti The Sun dan The Daily Mail menulis bahwa, Sahar Tabar, gadis asal Iran ini diklaim oleh media Belgia telah menjalani bedah plastik hanya dalam waktu beberapa bulan, agar wajahnya dapat menyerupai artis Amerika idolanya Angelina Jolie. Sebuah akun yang diduga sebagai akun Instagram resmi miliknya menampilkan berbagai pose diri selfie dengan wajah yang nampak aneh, cenderung menyeramkan. Sejumlah orang menduga, foto Sahar merupakan hasil editan photoshop ditambah kecanggihan polesan make up. Ada dugaan, gadis ini memakai perlengkapan tiruan (palsu) yang ditempelkan di wajahnya. Terlepas dari wajahnya yang asli hasil bedah plastik atau wajah “palsu” karena make up dan kecanggihan software editing. Di media sosial seperti twitter dan instagram, banyak orang mengulas fotonya. Sejumlah orang di media sosial, mengulas bentuk bibir, wajah, rahang, dagu dan hidung Sahar yang nampak berbeda-beda dari satu foto ke foto lainnya.

Foto Sahar Tabar (sumber: Instagram)
Analisa saya kalau melihat foto-fotonya, gadis ini terlihat memakai contact lens, dan wajahnya terlihat seperti hasil make up karakter. Anehnya, belum ada satupun media asing yang memperoleh klarifikasi resmi dari Sahar Tabar mengenai pemberitaan dirinya tersebut. Sejumlah media asing mengakui kesulitan memperoleh konfirmasi langsung dari Sahar. Apakah Sahar menikmati popularitas yang singkat ini? Apa iya gadis ini  ingin terkenal sejagad raya melalui media sosial. Atau justru dirinya sedang merasa terpuruk karena menjadi pembicaraan orang se-dunia? Sejak fotonya viral, jumlah followers instagramnya berlipat ganda. Pemberitaannya sensasional, menampilkan foto-foto perubahan drastis seorang Sahar Tabar. Bayangkan, apa ini sekedar gimmick semata untuk mendongkrak popularitas demi meraup keuntungan pribadi, Who Knows? Anything exceptional can go viral on the internet, right?
Di luar pemberitaan, kebenaran bahwa gadis ini melakukan operasi plastik (oplas ) atau tidak, atau foto-fotonya berupa rekayasa atau editan semata. Justru ide untuk menyerupai artis Angelina Jolie yang menggelitik pikiran saya. Apa iya saking cintanya sama sang idola, bisa membuat seseorang sedemikian obsesif ? Kok bisa yaa ada orang yang sebegitunya nge-fans dengan seseorang dan rela melakukan apa saja demi terlihat semirip mungkin atau serupa dengan bintang idolanya. Bukan mempermasalahkan apakah gadis ini punya dana trilyunan dollar untuk menjalani bedah plastik kecantikan yang notabene memakan biaya relatif mahal. Atau malah, gadis ini menjalani operasi gratis sebagai barter untuk mempromosikan dokter bedahnya, whatever...terlalu banyak kemungkinan disini. Yang jelas, gadis ini sudah berhasil memviralkan dirinya melalui media sosial. Saya sih menyayangkan, miris kalau memang benar gadis Iran, Sahar Tabar, melakukan bedah plastik yang membuat wajahnya berubah 360 derajat. Ekspresi wajahnya hasil bedah plastik terlihat tidak alami, ibaratnya wajah terlihat kaku untuk digerakkan. 

Foto Sahar Tabar (sumber: Twitter)

Kalau saya pribadi sih ogah terlihat cantik melalui bedah plastik, mau digratisin kek apalagi disuruh bayar. Say no to cosmetic plastic surgery.  Menurut pandangan saya, bedah plastik masih bisa diterima asalkan dengan alasan medis. Banyak kasus di dunia yang memang membutuhkan operasi bedah plastik, seperti bagi korban kecelakaan, bagi korban kebakaran, bagi korban aksi kriminal.
Beberapa contoh public figure asing yang hasil operasi plastiknya gagal seperti dialami perancang busana Donatella Versace, dan sosialita Jocelyn Wildenstein.


Foto Artis Gagal Oplas (sumber: womansday.com)
Sebagai manusia kita gak mungkin melawan kodrat alami, melawan kuasa Tuhan. Setiap orang pasti akan menua, perubahan fisik pasti akan terjadi sekeras apapun kita berupaya melawannya. Iya, program melawan penuaan pastinya dilakukan perempuan sedunia hihi. Tapi ya, sebisa mungkin jangan mengambil tindakan ekstrim beresiko. Kalau suka baca berita, sejak dulu banyak terjadi bedah plastik yang gagal, atau dampak buruk akibat bedah plastik baru muncul setelah beberapa tahun. Misalnya bedah plastik yang banyak dilakukan artis-artis luar negeri membuat wajah mereka malah menjadi aneh dan menyeramkan. Adapula pemasangan implan silikon payudara, yang bocor dan justru menjadi penyakit kanker. 

sumber: shutterstock
Beauty is pain? Really? Saya kok kurang suka dengan kiasan ini yaa. Memang sesuai prosedur operasi bedah plastik untuk kecantikan, selama dan pasca bedah plastik, pasien perlu menjalani serangkaian terapi. Ada prosedur pemulihan seperti tidak boleh melakukan gerakan tertentu. Tapi yaa mosok sih demi meraih predikat “cantik”, seseorang harus rela wajah atau tubuhnya di obrak abrik pisau bedah plastik. Saya sih gak mau. Semoga saja remaja-remaja di Indonesia gak ketularan hal semacam ini ya. Bahwa masih banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk berprestasi atau menjadi bahan pembicaraan di dunia internasional. 

Makna Cantik
Apa sih definisi kecantikan menurut kamu? Kalau saya pribadi, setuju dengan kata kecantikan itu relatif. Iya relatif, tergantung dari sudut pandang siapa yang menilai. Meski kecantikan itu mengandung dua makna, kecantikan dari dalam hati dan kecantikan nampak luar alias kecantikan fisik. Masyarakat tentu memiliki beragam definisi kecantikan, namun di setiap budaya dan negara tertentu biasanya terdapat stereotipe arti kecantikan. Kecantikan yang dianggap universal, diterima umum bahwa sosok seseorang cantik. Di Korea Selatan misalnya, kecantikan perempuan diartikan sebagai sosok yang berkulit putih terang, berhidung mancung dan bermata bulat besar. Di Afrika, kecantikan perempuan terlihat dari ukuran tubuhnya, semakin besar konon ditenggarai semakin cantik.

sumber: Pixabay
Mengapa ya kok ada orang yang rasanya sulit sekali mensyukuri segala anugerah dan karunia yang sudah diberikan oleh Tuhan. Mengapa harus meniru dan menjadi seperti sosok orang lain yang dianggap cantik? Bukannya, pepatah Be Your Self sangat bermakna bagi kaum perempuan? Setiap budaya pastinya punya konstruksi sosial mengenai arti kecantikan. Tapi apa iya karena sesuatu hal yang diterima umum menjadi kewajaran, selalu tepat dijadikan patokan? Seberapa penting mempercantik diri dengan bedah plastik?

Orang bilang, perempuan kudu cantik luar dalam, ya secara fisik maupun kepribadiannya.
Ngomongin hal ini kok saya jadi ingat dulu waktu zaman SD, saat eyang putri dari pihak Ibu saya masih hidup. Waktu itu, saya sering diajari menarik ujung hidung, dijepit dengan dua jari biar tambah mancung. Kadang malah, saya iseng ikutin temen-temen, saya jepit ujung hidung pakai jepitan jemuran dalam beberapa detik. Jadi geli sendiri kalo mengingat kelakuan dulu. Yaa meski hanya iseng, saya pernah jadi “korban” stereotipe pada zamannya bahwa perempuan cantik adalah yang berhidung mancung hihi. Namanya juga usaha yah :)

Thursday, November 30, 2017

Rute Alternatif Berlibur ke Bali



Berlibur ke Bali di Saat Gunung Agung Erupsi ?
Akhir tahun sudah di depan mata, biasanya nih menjelang atau memasuki bulan Desember kita udah terbayang-bayang asiknya suasana liburan. Hawa-hawa liburan udah mulai menerpa saya juga.
Saya pengen banget berlibur ke Bali, pulau eksotis yang dikelilingi pantai-pantai cantik. Udah kebayang pengen main pasir di pinggir pantai, berlarian sambil menikmati debur ombak, atau sekedar duduk-duduk di tepi pantai sambil membaca buku kesukaan.Tapi, kondisi erupsi Gunung Agung yang berdampak terhadap buka tutup bandara alias dihentikannya penerbangan dari dan ke bandara Ngurah Rai di Bali, membuat saya berpikir ulang. Wah, kenapa ya ketika saya ingin jalan-jalan sejenak saja, kok cuaca gak bersahabat hihi. Untung belum pesen tiket pesawat, ya meski nanti bisa direfund tetap aja saya males ribet-ribet ngurus proses administrasinya.

sumber: PVMBG-KESDM
Aktivitas Gunung Agung di Bali ini masih fluktuatif, gak bisa ditebak kapan letusan akan terjadi. Who knows? Sejak awal bulan Agustus 2017 Gunung Agung mengalami peningkatan aktivitas kegempaan. Sejak 4 bulan lalu, Gunung Agung sudah mengalami beberapa kali erupsi atau letusan. Semburan abu vulkaniknya yang dapat membahayakan penerbangan. Bila abu mengarah ke pulau Jawa atau ke arah pulau Lombok, bisa jadi bandara Juanda juga ditutup. Bandara Lombok juga sudah buka tutup beberapa kali. Kemungkinan Bandara Ngurah Rai buka tutup sifatnya sangat fleksibel mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Agung yang terletak di kabupaten Karangasem. Pada 14 September 2017 lalu, status Gunung Agung naik ke level 2 (Waspada), lalu pada 18 September 2017 status dinaikkan lagi menjadi level 3 (Siaga), dan pada 23 September 2017 status Gunung Agung menjadi level 4 (Awas). Seiring perkembangan aktivitas vulkanik, pada 29 Oktober 2017 status Gunung Agung turun menjadi level 3 (Siaga). Kurang dari sebulan, pada hari Minggu 26 November 2017 status Gunung Agung naik kembali menjadi level 4 (Awas). Jadi, dalam kurun waktu 4 bulan terakhir ini, Status Awas sudah dua kali. Pada status Awas, berarti warga setempat harus mempersiapkan diri bilamana letusan terjadi sewaktu-waktu. Namanya juga bencana alam, tak ada seorang pun yang bisa memprediksi toh. Nah makanya saya kudu menyiapkan beberapa skenario supaya rencana liburan ke Bali tetap aman dan nyaman.  

Rute Alternatif ke Bali
Ternyata masih banyak jalan menuju pulau Bali yang terkenal dengan sebutan pulau Dewata. Berikut beberapa cara yang sudah saya rangkum, dengan catatan situasi dampak abu letusan Gunung Agung tsb tidak berpengaruh terhadap bandara lain di sekitar pulau Bali.
1.Via Surabaya
Kita bisa naik pesawat terbang melalui bandara Juanda yang terletak di Sidoarjo, Jawa Timur. Nah setibanya di bandara atau Surabaya. Kita bisa melanjutkan perjalanan menggunakan bus pariwisata, kendaraan travel atau mobil rental menuju Bali.
2.Via Banyuwangi
Kita bisa naik pesawat terbang menuju Banyuwangi. Dari Banyuwangi bisa melanjutkan perjalanan menggunakan bus pariwisata, rental mobil, atau kendaraan travel menuju Bali.
3.Via Lombok
Menurut saya agak ekstrim dalam hal biaya nih hihi, karena kita bisa menggunakan pesawat terbang menuju Lombok lalu melanjutkan dengan kapal laut untuk menyebrang dari pelabuhan Lembar Mataram, menuju pulau Bali. Atau mending sekalian berlibur ke Lombok yah.
 

sumber: google map


Well, rute alternatif mana yang dipilih tergantung tujuan kita. Barangkali kita sudah punya janji dengan teman-teman yang ada di Bali, atau sudah punya program acara yang direncanakan jauh-jauh hari. Yaa mau gak mau kan tetep kudu pergi ke Bali. Banyak juga even yang diselenggarakan di Bali mulai seminar berskala nasional hingga konferensi internasional, apalagi menjelang pergantian tahun dan pesta tahun baru. Pastinya bakal banyak orang yang punya pemikiran sama atau nyaris seragam, berupaya mencoba cara alternatif menuju pulau Bali. Pada dasarnya akses rute alternatif melalui jalan darat akan dilanjutkan dengan kapal melalui pelabuhan Gilimanuk di Banyuwangi. Waktu penyebrangannya sendiri sekitar satu jam. Dari pelabuhan Gilimanuk menuju pusat kota Bali atau Denpasar butuh waktu sekitar 3-4 jam. Nah jadwal keberangkatan kapal ini memang sudah terskedul, namun perlu diingat juga bahwa cuaca buruk seperti gelombang tinggi bisa menyebabkan penundaan pemberangkatan kapal penyebrangan. Mau gak mau kita terpaksa menunggu di pelabuhan. Intinya sih, dalam situasi terjadi bencana alam atau cuaca buruk  yang diluar kuasa manusia, kita kudu pasrah dan mengantisipasi beberapa hal, terutama waktu lama perjalanan pasti akan menjadi lebih panjang. Stok cemilan perlu diperbanyak nih.

sumber: pixabay
Jadwal pemberangkatan kapal ferry dari pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju pelabuhan Gilimanuk, Bali terjadwal setiap satu jam. Tiket penyebrangan bervariasi apakah pergi tanpa kendaraan, membawa kendaraan roda dua atau roda empat, termasuk rombungan bus. Harga tiket mulai 6500 Rupiah per orang untuk sekali penyebrangan. Bila kita memilih penerbangan via Mataram, Lombok. Setibanya di Mataram bisa melanjutkan perjalanan via pelabuhan Lembar, Mataram menuju pelabuhan Padang Bai, Bali dengan harga tiket mulai 46 ribu rupiah per orang. Beberapa teman saya yang ingin melanjutkan perjalanan dari Surabaya menuju Bali awal pekan ini, menggunakan jasa travel  atau bus pariwisata dikenai biaya sekitar 200 Ribu Rupiah per orang. Adapula jasa rental mobil khusus untuk drop ke Bali sekitar 2 juta hingga 2 koma 5 juta Rupiah untuk sekali keberangkatan dari Surabaya. Biaya ini sudah termasuk honor pengemudi dan bensin, hmm lumayan juga yah. Belum lagi, biaya-biaya tak terduga yang bisa muncul sepanjang perjalanan. Misal jadwal pemberangkatan kapal penyebrangan yang ditunda karena gelombang tinggi. Penundaan keberangkatan bisa berjam-jam atau seharian penuh tergantung kondisi cuaca. Artinya ada dana khusus yang kudu dialokasikan untuk tambahan dana konsumsi selama menunggu di pelabuhan. Jadi, kita mesti cermat menyiapkan dan menghitung pengeluaran yang mungkin timbul untuk berlibur ke Bali. 

Obyek Wisata Di Luar Zona Bahaya
Nah, terus di Bali kita bisa ngapain aja? Banyak tempat wisata yang lokasinya tidak berdekatan dengan Gunung Agung, dalam arti termasuk radius aman. Kita masih bisa jalan-jalan di sekitar pantai Kuta, Sanur, GWK dll. Saat Gunung Agung berada pada level Awas, kawasan sejauh sekitar radius 15 KM dari Gunung Agung termasuk zona bahaya. Kawasan wisata Pura Besakih termasuk dalam radius zona berbahaya sehingga kawasan Pura Besakih sempat ditutup untuk umum ketika status Gunung Agung terletak pada level Awas bulan Oktober lalu. Level Awas merupakan level keempat atau level tertinggi yang mengisyaratkan bahwa Gunung Agung bisa meletus sewaktu-waktu. Kawasan wisata Kintamani yang terletak di kabupaten Bangli juga sempat terkena dampak abu vulkanik. 

Wednesday, November 22, 2017

Dunia Digital Dimata Saya



Digital Life
Kehidupan masyarakat masa kini pasti tak terlepas dari internet. Terlebih, warga yang tinggal di kota besar pada umumnya selalu terhubung melalui internet. Saya sendiri lebih banyak menggunakan internet untuk mencari informasi yang relevan terkait pekerjaan sehari-hari, membantu mempercepat proses kerja dan saling berkorespondensi via email. Keberadaan internet maupun sistem digital sangat menunjang aktivitas manusia modern yang super sibuk, termasuk mempermudah penyelesaian pekerjaan. Di sisi lain, pertemuan secara fisik tetap diperlukan, karena manusia sebagai mahkluk sosial tetap membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Pertemuan secara fisik maupun pertemuan di dunia maya saling melengkapi satu sama lain dalam berbagai kegiatan bisnis.

sumber: pixabay

Bisnis Digital vs Bisnis Konvensional
Di era awal bisnis internet bermunculan pada tahun 2000an, dikenal istilah Internet Bubble. Dimana pada saat itu, bermunculan bisnis-bisnis baru berbasis internet dan banyak juga bisnis yang berguguran karena berbagai alasan. Saat ini digitalisasi bisnis merupakan hal mutlak. Konsumen bukan hanya sekedar bisa membeli makanan, membeli pakaian, memesan tiket hotel atau pesawat. Namun bisnis berbasis internet tumbuh di berbagai sektor kehidupan, seperti hadirnya model bisnis ojek online, mobil rental online, membeli pulsa ponsel secara online, dsb. Intinya bisnis berbasis internet semakin marak, semua orang seakan berlomba-lomba membuat bisnis online. Namun apakah bisnis online sudah berjalan dengan baik di semua lini? Rasanya sih belum semua berjalan sesuai harapan ya, tentu perlu evaluasi secara berkala. Bisnis yang semula hanya berupa toko fisik atau offline store kini mulai tergerus ceruk pasar bisnis online yang terus mengalami pertumbuhan. Tentu, semua jenis bisnis memiliki plus minus masing-masing.

sumber: shutterstock

Menurut saya, ada jenis produk yang cocok memiliki toko konvensional dan toko online bersamaan. Ada jenis bisnis yang hanya cocok memiliki toko konvensional atau sebaliknya ada bisnis yang hanya cocok memiliki toko online semata. Banyak hal tentu yang bisa menjadi pertimbangan. Saya pribadi terkadang menggunakan jasa bisnis online, hanya untuk beberapa produk atau jasa. Pada beberapa hal seperti produk pakaian, saya lebih memilih membeli ke toko konvensional sehingga saya bisa mencoba terlebih dahulu, apakah pas dan nyaman di tubuh. Rasanya, di masa depan bisnis online akan berkembang jauh lebih pesat dan bisnis konvensional (offline) tetap dibutuhkan untuk saling melengkapi keberadaan entitas bisnis. Tak dipungkiri, ada banyak kemungkinan jumlah pasar atau konsumen bisnis offline akan mengecil, dan berpindah ke pasar online. Perilaku konsumen dalam berbelanja memang kerap mengalami perubahan, khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Kalau dipikir-pikir bentuk dari bisnis online  seperti proses metamorfosis, semula orang menjalankan business as usual, model bisnis dengan membuka toko lalu berubah menjadi bisnis online saja. Adapula entitas bisnis yang memiliki kedua bentuk toko offline dan online store.


Sistem Online dalam Bisnis Digital
Bisnis berbasis digital yang menerapkan pendaftaran online sudah terjadi di berbagai sektor, contohnya sistem antrean pasien. Di beberapa rumah sakit misalnya, sudah mulai menerapkan sistem online, dimana pasien dapat mendaftar melalui aplikasi media sosial dan pasien dapat segera mengetahui akan ditangani oleh dokter tertentu pada jam sekian. Namun apakah pelaksanaan sistem digital tsb sudah berjalan secara efektif dan efisien? Banyak hal yang perlu dievaluasi secara kontinu dan diperbaiki agar sistem bisnis berbasis digital berjalan lancar. Misal apakah ada petugas maupun staf yang didedikasikan untuk menangani keluhan konsumen secara khusus 24 jam? Atau setidaknya berdedikasi menangani media sosial perusahaan secara penuh saat jam kerja? Kenapa hal ini penting? kalau kita bicara masalah online atau bisnis berbasis digital, memang membawa serangkaian konsekuensi yang mesti dijalani sehingga bisnis yang dijalani memang sungguh-sungguh berbasis digital. Bukan sekedar berlabel digital saja, hanya karena perusahaan sudah memiliki website, dan aplikasi media sosial lainnya, lalu dirasa cukup? Apa jadinya bila konsumen sulit menghubungi staf atau perusahaan, dan pihak perusahaan lamban merespons. Tentu hal ini menjadi celah yang membuka potensi konsumen berpindah menggunakan jasa atau produk perusahaan lain. 
Saya jadi teringat ucapan dosen saya saat di bangku kuliah ilmu manajemen, bahwa terlibat dalam sosial media merupakan hal mutlak yang tak bisa dihindari bagi sebuah entitas bisnis. Namun, hal yang lebih penting adalah seberapa cepat respons perusahaan dalam menangani keluhan pelanggan maupun pertanyaan dari para konsumen di sosial media tsb. Semakin cepat merespons atau semakin cepat solusi terpenuhi akan membuat image atau citra perusahaan semakin positif, begitupula sebaliknya. Mengapa elemen responsif sangat penting? menurut saya, komunikasi dua arah antara perusahaan dengan konsumen atau pelanggannya adalah hal mendasar yang wajib dimiliki untuk kesuksesan bisnis siapapun. 

sumber: shutterstock

Contoh lain penerapan sistem online di sektor pelayanan publik. Sistem pembuatan paspor saat ini dilakukan via pendaftaran online di situs tertentu atau pendaftaran via whatsapp. Pengalaman rekan kerja saya yang beberapa kali mencoba mendaftar ke kantor imigrasi di kota Jakarta melalui sistem online selalu gagal, selalu muncul jawaban kuota penuh. Teman saya akhirnya berhasil mendaftar via whatsapp dengan jadwal tersedia sekitar satu setengah bulan mendatang, di imigrasi kota Bogor. Bayangkan, ketika jumlah lonjakan konsumen dalam hal ini para calon pembuat paspor membludak sementara jumlah kuota harian terbatas, memicu antrean panjang. Saat juga belum tahu persis apakah sistem ini sudah berjalan efektif? Ketika konsumen mau tak mau “terpaksa” mendaftar secara online atau via aplikasi dan tak ada pilihan untuk antre langsung atau sistem “walk in”. Lalu bagaimana yaa nasib masyarakat yang mungkin memiliki keperluan mendesak, dan harus segera membuat paspor?
 

Response Your Consumer A.S.A.P
Menurut saya, seberapa cepat atau seberapa responsif tim dari sebuah entitas bisnis menangani atau menanggapi keluhan konsumennya menjadi hal krusial.  Bagaimana pihak perusahaan berinteraksi dengan pelanggannya sesegera mungkin alias as soon as possible, That’s the key of future bisnis. Bukan hanya soal keluhan saja. Saya amati banyak entitas bisnis menyelenggarakan serangkaian lomba atau kuis melalui platform digital atau media sosial resmi perusahaan seperti twitter, instagram, facebook. Namun rasanya belum semua perusahaan bisa memproses pengumuman dan pemberian hadiah bagi para pemenangnya secara cepat. Meski perusahaan tak menjanjikan dalam kurun waktu tertentu, saya berpendapat sesegera mungkin akan lebih baik. Bagaimanapun penyelenggaraan lomba adalah salah satu upaya untuk meningkatkan citra perusahaan dan branding merek produk. Rasanya waktu tunggu 1 bulan bisa menjadi batas waktu maksimal bagi konsumen menantikan hadiah yang tak kunjung tiba. Terkadang pihak perusahaan tak memberi pengumuman sama sekali, seperti informasi proses pemberian hadiahnya. Padahal,  hal yang terlihat sepele ini sama pentingnya dengan merespon pelanggan yang ingin membeli produk atau jasa. Hal mendasar, dalam sebuah bisnis setiap kegiatan atau kebijakan perusahaan yang diumumkan ke publik, selalu diamati para konsumennya. Menurut saya, sebaiknya, ketika mengadakan even atau lomba, pihak penyelenggara perlu memberi kepastian waktu bagi konsumen. Apalagi konsumen zaman sekarang semakin kritis, banyak cara bagi konsumen komplain atau menyampaikan uneg-uneg mereka. Kuncinya, lagi-lagi masalah komunikasi. Perusahaan bisa menggunakan bahasa sederhana yang umum dipakai sehari-hari, seperti mohon bersabar hadiah akan kami proses dalam waktu 3 hari atau dalam waktu seminggu. Hal semacam ini tentu akan membuat konsumen nyaman dan tidak bertanya-tanya. Jangan sampai konsumen menunggu kepastian datangnya hadiah atau pengumuman itu seperti rasanya “digantung” serasa menunggu jawaban pacar saat diajak menikah hehe.

sumber: pixabay