Serba-Serbi Menjadi
Voice Over Talent
Halo, mengawali
cerita di tahun 2018 ini saya ingin berbagi pengalaman selama menjadi voice
over talent untuk program berita televisi. Teman-teman udah tau kan? Di setiap
program berita biasanya selalu ada jenis berita yang diberi voice over atau berita yang sudah direkam
terlebih dahulu oleh pengisi
suara. Istilah yang jamak dipakai di dunia pertelevisian adalah dubbingan, apakah sebuah berita sudah didubbing
atau ada berita yang perlu dire-dubb, direvisi karena perubahan naskah berita.
Memang agak sulit mencari padanan kata ganti yang pas dari Voice Over Talent maupun
Dubber, namun selama
ini di Indonesia kerap digunakan istilah pengisi suara atau sulih suara. Di Indonesia, istilah dubber nampaknya lebih familiar.![]() |
| sumber: Shutterstock |
Sebenarnya istilah Voice Over bukan hanya milik industri televisi, namun industri penyiaran secara umum yang bisa disajikan dalam berbagai format. Misalnya voice over untuk iklan komersial atau television commercial ( TVC), voice over untuk iklan layanan masyarakat atau public service announcement (PSA). Termasuk juga voice over untuk mengisi suara karakter film animasi, sandiwara radio, voice over untuk tutorial penggunaan suatu produk tertentu dan banyak lagi jenisnya. Di tulisan ini, saya sertakan juga beberapa contoh voice over di program berita yang saya dubbing, termasuk produk dummy alias contoh voice over yang saya buat pada iklan komersial dan iklan kampanye publik.
![]() |
| sumber: koleksi pribadi |
Karakter Suara Voice Over Talent
Beragam
Buat saya pribadi, karakter suara manusia tidak
ada yang jelek. Semua karakter suara bisa dimanfaatkan sebagai voice over
asalkan sesuai dengan jenis berita atau iklan maupun karakter program yang
ingin ditampilkan. Apakah perlu suara perempuan atau laki-laki? Lalu bagaimana
karakter suara yang diinginkan? Apakah karakter suara kekanak-kanakan,
karakter suara dewasa, suara yang tegas atau suara yang lembut. Atau karakter
yang perlu dialek bahasa suku tertentu, dan banyak lagi. Kadang saya suka gemes sendiri, kalau mendengar teman
yang belum mencoba sudah bilang seperti ini “ aduh, suaraku jelek” , atau “aku
gak bisa dubbing”. Buat saya pribadi, berlatih menjadi pengisi suara harus dicoba
berulang kali. Lha wong belum juga berlatih atau mencoba mengulang latihan, kok
udah pasrah dan nyerah wkwkwk. Berlatih gak cukup belasan kali, mungkin perlu
seratus kali, it takes time. Apalagi zaman sekarang, teknologi makin canggih.
Berlatih dan merekam suara sendiri cukup pakai ponsel, dan bisa dilakukan
sesukanya dimana saja.
Well,
menurut saya semua keahlian sulih suara atau
pengisi suara
(Voice Over Talent atau Dubber) ini bisa dilatih. Keahlian
yang bisa dipelajari semua orang dari berbagai kalangan. Keahlian melakukan Voice Over bukan eksklusif milik para profesional yang
berkecimpung di dunia penyiaran semata. Meski
mayoritas program berita di stasiun televisi menggunakan voice over dari para
jurnalisnya atau karyawannya.
Pekerjaan voice over talent di sebuah stasiun televisi, ibaratnya seperti job
desk tambahan. Sedangkan sebagian
besar pekerjaan Voice Over Talent atau Dubber di dunia penyiaran secara umum, konon merupakan pekerjaan freelance atau
part time job, biasanya
dubber menerima honor sesuai proyek.
Artinya masih banyak peluang bagi masyarakat untuk terjun ke dunia sulih suara. Menjadi seorang Voice Over Talent atau Dubber tak terhalang usia lho. Salah satu
contohnya para dubber untuk tokoh-tokoh di film kartun Doraemon, semuanya orang
dewasa bukan anak-anak. Kekurangan
yang dimiliki seseorang seperti pengucapan atau pelafalan huruf r yang kurang sempurna, atau biasa disebut cadel, juga tak menutup rejeki seseorang untuk berprestasi
di bidang penyiaran. Banyak juga penyiar radio yang sukses meski memiliki
kekurangan tersebut. Lagi-lagi, kebutuhan Voice Over sangat spesifik tergantung
keunikan suara masing-masing.
Lihat saja di
era tahun 2000an, bermunculan Youtuber atau Vlogger yang berhasil memikat hati
para penonton setianya. Ini artinya dunia digital, multimedia atau dunia audio video ini terbuka bagi siapapun yang mau dan
berani mencoba. Tentunya perlu disesuaikan dengan karakter diri ya, gak perlu ikut-ikutan gaya orang lain. Sudah banyak
terbukti kan, sejumlah artis atau orang biasa memperoleh job alias ketiban rezeki karena sering memunculkan keahlian mereka di media
sosial. Gak ada salahnya kok mengikuti langkah positif mereka. Contoh lain, banyak orang biasa yang
berbakat menyanyi bikin rekaman lagu atau menggunakan aplikasi smule yang gak kalah sama penyanyi aslinya. Banyak juga para penyanyi
profesional yang mengawali karirnya mulai dari menyanyikan lagu milik orang
lain (cover song) di channel Youtube. Menurut saya, apapun keahlian yang dimiliki bisa dieksplor secara
positif dan ditampilkan dalam media sosial. Misalnya memasak, membuat prakarya,
melukis, membuat
kaligrafi, dll. I believe that for positive
contributions, there is no limit & there is no boundaries on the digital
world.
Kembali ke
dunia per-dubber-an tadi, kalau di Indonesia saya belum
menemukan komunitas berskala nasional yang mewadahi para Voice Over Talent, Dubber atau orang-orang yang memiliki minat serupa
untuk memperluas peluang kerjasama. Apa saya yang
#kudet ya hihihi.
Ada beberapa komunitas yang saya temui di internet, namun rasanya belum
merangkul atau mewadahi para Voice Over Talent atau Dubber se-Indonesia. Beberapa
platform yang saya temui di internet, sifatnya lebih seperti bidding proyek
alias tender. Sepertinya belum ada platform yang mewadahi dan mempertemukan pihak dubber dan klien yang bener-bener pas buat
masyarakat Indonesia. Wah bisa
jadi ide bisnis nih :)
Kunci Menjadi Voice Over Talent
Balik lagi ke
pengalaman pribadi. Menurut saya, beberapa
kunci dasar dalam mendubbing naskah berita seperti, pelafalan atau pengucapan kata harus jelas, intonasi harus tepat, tone
atau nada suara harus sesuai, bagaimana
menyelami naskah. Yaa, menjadi seorang pengisi
suara perlu memahami isi naskah. Saya kadang seperti berkhayal
atau bermain drama, tergantung naskah beritanya. Merupakan hal penting untuk bisa ikut merasakan kesedihan atau
kegembiraan naskah. Misalnya ketika mengisi suara untuk naskah bertema
kesedihan, seperti profil kakek yang tinggal di gubug bekas kandang kambing, nada suara kita juga harus bisa
memunculkan aura kesedihan tsb. Tentunya, sebagai Voice Over Talent wajib mempelajari
hal-hal baru, melatih vokal, teknik pernafasan, cara bicara, aksen dll. Terlebih
lagi bila melakukan voice over dalam bahasa asing atau menggunakan istilah
asing.





















