Thursday, October 27, 2016

Menjadi Dokter...Cita-Cita atau Mimpi?



Dokter sebuah cita-cita mulia
Sebagai orangtua tentu saya pribadi memiliki harapan supaya anak-anak saya, kelak bisa menjadi seorang dokter. Ya seorang dokter, profesi mulia yang menolong orang lain, Insya Allah bisa menjadi berkah di dunia dan di akhirat.

Ilustrasi Mahasiswa Kedokteran (sumber: Shutterstock)

Namun, dewasa ini ternyata menjadi seorang dokter tidak semudah membalik telapak tangan. Semakin maju perkembangan dunia kedokteran, biaya pendidikan dokter justru semakin mahal, bisa dibilang biayanya selangit. Bagaimana tidak, biaya uang pangkal untuk masuk ke sebuah fakultas kedokteran di universitas swasta di Jakarta saja bisa mencapai seratus juta rupiah. Hmmm...besaran uangnya kok bisa buat bayar uang muka pembelian rumah atau mobil yaa... 


Biaya pendidikan dokter selangit
Lalu, bagaimana masa depan dunia kedokteran bila hanya orang-orang yang memiliki uang lebih dari cukup atau strata sosial menengah atas yang bisa menjadi dokter? Bukankah Indonesia masih membutuhkan ribuan dokter untuk disebar di seantero negeri?
Saya jadi sangsi, sebab  menurut informasi beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter, menjadi dokter tidak segemerlap yang dibayangkan kebanyakan orang. Seorang dokter justru butuh biaya besar untuk meneruskan pendidikan dokter spesialis.
Saya juga bertanya-tanya, apakah pemerintah sudah mengelola beasiswa bagi calon mahasiswa kedokteran dengan baik? Bagaimana pemerintah memastikan pemerataan pendidikan bagi calon dokter, khususnya bagi keluarga menengah ke bawah.

sumber: Shutterstock

Dulu almarhumah ibu saya adalah seorang dokter umum, alumni sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta, termasuk beberapa kerabat seperti om maupun pakde yang berprofesi sebagai dokter. Jadi, dunia kesehatan lekat dengan kehidupan saya sejak kecil, sayapun sering mendengar cerita-cerita seputar kehidupan dokter. Dulu di tahun 1960an zaman ibu saya menempuh pendidikan kedokteran, biaya pendidikan belum semahal seperti saat ini karena subsidi pemerintah relatif memadai.


Nampaknya, perubahan UU yang mengubah status Universitas Negeri menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) di awal tahun 2000 membawa sederet konsekuensi, khususnya terhadap sumber pemasukan, pengelolaan keuangan dan penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi dan Peraturan Pemerintah nomor 61 tahun 1999 tentang penetapan perguruan tinggi negeri sebagai badan hukum dianggap sebagai kebebasan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, di bidang akademik dan otonomi keilmuan, termasuk otonomi dalam bidang keuangan. Lalu pemerintah menetapkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU Dikti) yang mewajibkan pengelolaan perguruan tinggi BHMN dengan pola pengelolaan keuangan BLU (Badan Layanan Umum), ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH).


Problematika layanan kesehatan
Duh pokoknya ruwet deh, kalau mikirin beragam problem dalam dunia kedokteran.
Belum lagi standar dalam pelayanan kesehatan yang tidak seragam antara satu rumah sakit dan rumah sakit lain, termasuk pelayanan di puskesmas. Banyak banget lho yang mesti dibenahi. Sampai kapan yaa kondisi seperti ini berlarut. Bagaimana bangsa Indonesia bisa maju bersaing dengan dokter-dokter asing...yang konon katanya lebih profesional?


Pengalaman pribadi saya saat berobat ke dokter sebuah puskesmas di Jakarta beberapa tahun silam dengan keluhan gangguan pencernaan, juga gak terlalu memuaskan. Memang tarif berobat di puskesmas murah, waktu itu saya bayar hanya 3 ribu rupiah. Di ruang praktek, konsultasi dokter hanya berlangsung 5 menit. Sarannya pun sederhana saja, untuk memperbanyak makan sayur dan buah. Wah, jujur saja..saya kecewa. Oh ternyata seperti ini yaa pelayanan di puskesmas. Mungkin karena disubsidi pemerintah, dokter hanya memperoleh honor yang tak seberapa, ditambah banyak pasien yang mengantre. Rasanya para dokter hanya bertanya mengenai keluhan pasien seadanya supaya pekerjaan mereka cepat selesai. Begitulah kira-kira yang terlintas di benak saya.


Biaya berobat di RS swasta memang relatif lebih mahal. Biasanya ketika berobat ke dokter umum, tarifnya berkisar sekitar 75 hingga 100 ribu rupiah, dan tarif berobat ke dokter spesialis berkisar 120-150 ribu rupiah per kunjungan. Meskipun tarif berobat di RS swasta berbeda-beda, namun hal tersebut belum tentu menjamin kepuasan pasien atas pelayanan dokter.
Begitu pula pelayanan dokter di puskemas daerah atau di wilayah yang agak terpencil. Beberapa tahun lalu saat dinas kantor, saya pernah berkunjung ke sebuah puskesmas di kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Mudah ditebak, fasilitas puskesmas di daerah belum selengkap atau secanggih di ibukota. Dokternya pun kadang hanya satu, dan harus menghadapi aneka penyakit pasien.  Sedih rasanya bila memikirkan fasilitas kesehatan di lokasi terpencil. 

sumber: pasiensehat.com


Saya pernah curhat dengan sahabat saya,  seorang dokter. Sahabat saya bilang dokter itu juga manusia. Dokter pun profesi yang sama dengan profesi lain. Dokter juga pasti akan mengalami kelelahan luar biasa bila bekerja over load. Apalagi dengan sistem BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang belum siap 100%. Jumlah dokter terbatas, namun ‘terpaksa’ memberi pelayanan kesehatan untuk ratusan pasien per hari. Belum lagi masalah anggaran biaya untuk pasien, dalam banyak kasus tidak semua biaya pengobatan ditanggung 100 persen oleh BPJS. Menurut saya, pemerintah seharusnya memberikan porsi anggaran kesehatan yang lebih besar, melalui APBN dan APBD, sehingga pasien yang memang tidak mampu bisa memperoleh pengobatan gratis.


sumber: Shutterstock

Satu hal lagi, ada pemeo di masyarakat bahwa para dokter sekarang relatif mau bekerja di rumah sakit besar supaya cepat ‘balik modal’ karena sudah mengeluarkan biaya pendidikan jutaan rupiah. Ntahlah pameo tersebut benar atau tidak, namun yang jelas menjadi seorang dokter sudah seharusnya bagian dari panggilan jiwa, bukan sekedar mengejar materi.  Saya percaya masih banyak dokter yang memiliki semangat tinggi dan berjuang demi mewujudkan kesehatan bangsa.


Aksi Ikatan Dokter Indonesia (IDI)
Saat memperingati HUT IDI 24 Oktober lalu, para dokter menyuarakan aspirasi mereka. Mereka mengkritisi sistem pendidikan dokter, sistem pelayanan kesehatan serta ketergantungan Indonesia terhadap alat kesehatan maupun obat impor. Aksi para dokter yang tergabung dalam IDI merupakan niat untuk memulai reformasi sistem kesehatan serta reformasi sistem pendidikan kedokteran. Harapannya, agar dokter Indonesia selalu merakyat dan pro rakyat.

Ilustrasi alkes (sumber: Shutterstock)

Menurut para dokter yang melakukan aksi, pemerintah seharusnya tidak berkutat atau membuat program studi yang justru memperpanjang sistem pendidikan dokter. Di sisi lain pemerintah mengklaim penyelenggaraan pendidikan dokter layanan primer bertujuan untuk memperbaiki kualitas layanan kesehatan di puskesmas.
Meskipun saya awam soal ini, menurut saya pemerintah seharusnya membenahi layanan mendasar terlebih dahulu, memperbaiki sistem layanan kesehatan di berbagai rumah sakit maupun puskesmas, serta mendorong produksi alkes di dalam negeri, termasuk memproduksi vaksin secara mandiri. 

Aksi dokter (sumber: IDI)

Jujur nih, saya suka bingung kenapa yaa dunia kedokteran yang sudah maju di Indonesia belum dapat memproduksi vaksin secara mandiri. Vaksin varisela contohnya, sulit sekali memperoleh stoknya dalam 3 tahun terakhir. Kadang saat berobat ke dokter anak, saya sering menanyakan hal ini ke dokternya, tapi dokter pun tak tahu menahu.
Apa iya bangsa Indonesia mau terus-menerus tergantung dengan bangsa lain, mengimpor alkes, mengimpor obat dan vaksin. Belum lagi serbuan dokter asing yang bebas masuk dan berpraktik di dalam negeri. 

Ilustrasi obat (sumber: Shutterstock)

Pemerintah harus lebih waspada terhadap maraknya praktik dokter ilegal. Sebagaimana kita ketahui dalam pemberitaan yang sempat ramai  pada 2014 lalu, bahwa ada klinik kesehatan dengan dokter berkewarganegaraan asing melakukan praktik medis ilegal di kawasan Jakarta Barat.  Praktik dokter ilegal baru terungkap setelah beberapa pasien mengeluh di media sosial.
Contoh tragis lainnya, pada 2015 lalu seorang perempuan diduga meninggal dunia karena malapraktik dokter asing setelah menjalani terapi tulang belakang chiropractic.
Hal-hal tersebut hanya salah satu contoh, mungkin masih banyak praktik ilegal atau malapraktik yang tak terendus di luar sana. Banyak sekali yang harus dibenahi, bagaimana pengawasan pemerintah ditingkatkan terhadap dokter-dokter asing tersebut.

Aksi dokter (sumber: IDI)

Keberhasilan sektor kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Negara berkewajiban menjamin kesehatan rakyatnya sesuai amanah UUD 1945 dan UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009.  Ikatan Dokter lndonesia (lDl) sebagai satu-satunya organisasi profesi dokter berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran, memiliki peran dan tanggung jawab tidak hanya kepada anggotanya, namun juga kepada masyarakat. IDI juga merasa perlu berperan aktif melalui berbagai upaya untuk mewujudkan profesionalisme dokter dalam rangka menghadirkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan pro rakyat. Keberhasilan tugas profesional seorang dokter adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya dibebankan pada profesi dokter tapi juga harus didukung penuh oleh pemangku kebijakan, terutama pemerintah.
Dalam rangka menghadirkan kesehatan dasar yang berkualitas, diperlukan dokter yang bermutu dalam pelayanannya. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari adanya sistem dan proses pendidikan kedokteran yang juga bermutu. 

Mahasiswa kedokteran (sumber: FK UGM)

Pendidikan kedokteran harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, khususnya hal yang terkait dengan mahalnya biaya pendidikan kedokteran yang pada ujungnya berdampak pada mahalnya biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat. Akibatnya,  masyarakat miskin semakin sulit mengakses pelayanan kesehatan dengan mudah dan murah. Satu hal yang mendesak dilakukan, segera benahi carut marut dunia kedokteran dan dunia kesehatan di Indonesia, demi kehidupan masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Semoga pelayanan kesehatan yang benar-benar pro rakyat, bisa segera terwujud. Perbaikan dunia kesehatan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat di berbagai sektor.  


Last but not least, semoga cita-cita saya menyekolahkan anak-anak di fakultas kedokteran bisa terwujud di masa mendatang :)

See U

Saturday, October 22, 2016

Sarapan di RM Ciganea Purwakarta



Lokasi
Suatu hari saya beserta keluarga jalan-jalan ke Purwakarta. Berkat rekomendasi seorang teman, mampirlah kita ke rumah makan yang khusus menyajikan masakan khas Sunda, yaitu rumah makan Ciganea.

Lokasinya gampang ditemukan, dari Jakarta via tol Cikampek, ambil arah melalui tol Cipularang lalu keluar di exit tol Jatiluhur yaa. Setelah bayar tol, sekitar 10 meter sudah ketemu jalan raya, nah posisi rumah makannya pas banget ada di seberang jalan.

Aneka Menu RM Ciganea
  
Kami tiba sekitar pukul 8 pagi, di parkiran sudah ada beberapa mobil. Ternyata banyak pengunjung yang sengaja datang khusus untuk menikmati sarapan pagi di sini.


Suasana RM Ciganea

Rumah makan ini buka sejak pukul 7 pagi. Penyajiannya serupa dengan rumah makan Padang, pengunjung tinggal mencomot menu yang diinginkan , dan membayar sesuai menu yang dimakan.

Menu Makanan
Kebetulan saat itu, saya sudah makan pagi jadi perut dalam keadaan tidak begitu lapar...
Kami hanya mencicipi beberapa menu saja, seperti ayam goreng, tahu tempe, ikan wader alias baby fish. Menurut lidah saya, rasa makanannya tidak terlalu istimewa, so-so lah. Cuma sambal cabai merahnya nih yang membedakan, rasa pedasnya sampai ke ujung lidah...pedes buanget. 

Sambal

Harganya relatif yaa, gak bisa dibilang murah juga. Tahu tempe dengan ukuran yang relatif kecil dihargai 3 ribu rupiah per potong, Ayam goreng atau empal mulai 18 ribu rupiah per potong. Seporsi baby fish dengan porsi relatif sedikit dihargai 20 ribu rupiah. Rasanya seratus ribu rupiah bisa untuk makan berdua dengan porsi yang relatif mengenyangkan.

Suasana Dapur RM Ciganea

Monday, October 17, 2016

Icip-Icip di Bong Kopitown



Mencicipi menu makanan di dalam penjara, kira-kira gimana yaa rasanya? Bayangan suasana yang kelam, dingin nan sepi ternyata tak terbukti di resto Bong Kopitown yang didesain dengan nuansa penjara.
Resto ini terletak di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tepatnya di jalan Boulevard Raya. Resto ini terletak di deretan ruko-ruko. Lokasinya mudah dicari, setelah melalui mal kelapa gading, ketemu perempatan, lurus saja sekitar 100 meter, di lampu merah kedua putar balik, nah sekitar 50 meter sampai deh, resto ini berada di sebelah kiri jalan.

Mie Goreng

Menu makanan di resto dengan desain ala penjara ini cukup variatif, layaknya resto-resto menu makanan kekinian. Menu makanannya menyajikan cita rasa ala Cina peranakan sebagaimana tercantum dalam list menu restonya. Beberapa menu tersedia seperti nasi goreng, nasi lemak, nasi ayam kari.

Menikmati Ote-Ote
 
Di sini saya mencoba mie goreng, kwetiaw goreng, serta cemilan ote-ote dan roti bakar.
Menurut saya, rasa mie gorengnya lebih nendang dibanding kwetiaw gorengnya. Porsinya juga relatif besar, seporsi mi goreng bisa dimakan untuk berdua. Harga makanannya rata-rata berkisar 25 hingga 30 ribuan rupiah per porsi. Menu seporsinya cukup banyak lhoo, bisa dibilang big portion, jadi bisa makan sepiring berdua.

Harganya relatif standarlah, kira-kira menghabiskan sekitar 50 Ribu Rupiah per orang untuk makan minum. Suasananya restonya relatif cozy, cocok buat ngumpul bareng temen-temen.



Kwetiauw Goreng

Thursday, September 15, 2016

Lagi-Lagi Sate Maranggi






Lokasi
Semoga gak bosen yaa baca review soal restoran Sate Maranggi di Purwakarta, Jawa Barat. Kebetulan di awal September lalu, saya  berkunjung ke rumah kerabat di kota Purwakarta, sekalian mampir makan siang di restoran Sate Maranggi yang terletak di tepi jalan raya, tepatnya di jalan raya Cibungur.

Akses ke restoran Sate Maranggi ini cukup mudah, bila kita berangkat dari Jakarta via Tol Cikampek, setelah sampai exit tol Cikampek, ketemu pertigaan. Kalau ke kiri ke arah Cirebon, nah kita belok ke kanan  ke arah kota Purwakarta. Setelah belok ke kanan, sekitar 100 meter, pas di sebelah kiri jalan ada plang yang cukup besar bertuliskan Sate Maranggi Ny Yetty. Sampai deh di lokasi, kendaraan langsung masuk ke parkiran. Di pinggir jalan udah keliatan asep-asep dari sate yang sedang dibakar, yang membumbung tinggi hingga ke awan...eh terlalu berlebihan ya lebay.

Menikmati Sate "empuk" Maranggi

Berburu Kursi
Begitu sampai lokasi, perburuan dimulai. Bukan berburu satenya, tapi berburu mencari kursi kosong ...wow suasananya mirip orang lagi menggelar hajatan besar, dimana-mana meja kursi penuh pengunjung. Jadi ketika melihat ada pengunjung yang sudah selesai makan atau beranjak, atau melihat pelayan sedang membereskan meja, cepet-cepet deh meja kursi didudukin. Kalo istilah anak SD zaman dulu, jangan lupa bangkunya ditek-in duluan ya biar gak keduluan hihihi...ini kali kedua saya makan disini...gak nyangka lo sekarang rame bener. Pertama kali dateng ke sini rasanya udah 10 tahun yang lalu, suasana warung satenya belum seramai saat ini.


Meja Penuh Pengunjung
 

Kerabat saya bilang, restoran sate Maranggi ini memang berkembang pesat dari tahun ke tahun, dimulai dari beberapa meja kursi . Sekarang udah semakin luas, hingga mampu memuat seribu pengunjung.

 
Satenya Empuk
Apa yaa rahasianya? Penasaran kan...kalo menurut saya, satenya yang empuk dan bumbunya berasa merasuk ke dalam dagingnya, itu yang tiada duanya. Disini ada tiga pilihan sate, sate ayam, sate kambing dan sate sapi.

Sate Sapi Maranggi

Saya rekomendasikan sate sapi, a must try menu. Daging sapinya terasa bener-bener empuk, gurih dan manis. Meski disini sate dimakan tanpa tambahan bumbu kacang sebagaimana layaknya penjaja sate keliling atau warung sate yang biasa kita temui. Teman makan sate disini berupa sambal cabai rawit tomat segerrr, yang bisa bikin kita meringis kepedasan...hehe

Sate Kambing Maranggi
 
Juara keduanya sate ayam, baru deh sate kambing. Untuk sate kambing menurut saya gak terlalu empuk dan lebih banyak lemaknya. Di sisi lain, saya pribadi emang bukan penggemar daging kambing. Menu lainnya ada gule kambing, baso, siomay. Sepertinya sang empunya resto bekerja sama dengan beberapa rekanan, jadi pengunjung yang gak terlalu suka sate masih punya pilihan menu makanan. Nasi putih disajikan dalam balutan daun pisang, seporsinya kira-kira sekepal tangan. Rasanya untuk sekali makan minimal butuh 2 porsi nasi supaya kenyang.

Nasi Putih dibalut Daun Pisang