Monday, January 22, 2018

Pengalaman Menjadi Voice Over Talent



Serba-Serbi Menjadi Voice Over Talent
Halo, mengawali cerita di tahun 2018 ini saya ingin berbagi pengalaman selama menjadi voice over talent untuk program berita televisi. Teman-teman udah tau kan? Di setiap program berita biasanya selalu ada jenis berita yang diberi voice over atau berita yang sudah direkam terlebih dahulu oleh pengisi suara. Istilah yang jamak dipakai di dunia pertelevisian adalah dubbingan, apakah sebuah berita sudah didubbing atau ada berita yang perlu dire-dubb, direvisi karena perubahan naskah berita. Memang agak sulit mencari padanan kata ganti yang pas dari Voice Over Talent maupun Dubber, namun selama ini di Indonesia kerap digunakan istilah pengisi suara atau sulih suara. Di Indonesia, istilah dubber nampaknya lebih familiar.

voice over talent
sumber: Shutterstock


Sebenarnya istilah Voice Over bukan hanya milik industri televisi, namun industri penyiaran secara umum yang bisa disajikan dalam berbagai format. Misalnya voice over untuk iklan komersial atau television commercial ( TVC), voice over untuk iklan layanan masyarakat atau public service announcement  (PSA). Termasuk juga voice over untuk mengisi suara karakter film animasi, sandiwara radio, voice over untuk tutorial penggunaan suatu produk tertentu dan banyak lagi jenisnya. Di tulisan ini, saya sertakan juga beberapa contoh voice over di program berita yang saya dubbing, termasuk produk dummy alias contoh voice over yang saya buat pada iklan komersial dan iklan kampanye publik.

voice over talent
sumber: koleksi pribadi
Karakter Suara Voice Over Talent Beragam
Buat saya pribadi, karakter suara manusia tidak ada yang jelek. Semua karakter suara bisa dimanfaatkan sebagai voice over asalkan sesuai dengan jenis berita atau iklan maupun karakter program yang ingin ditampilkan. Apakah perlu suara perempuan atau laki-laki? Lalu bagaimana karakter suara yang diinginkan? Apakah karakter suara kekanak-kanakan, karakter suara dewasa, suara yang tegas atau suara yang lembut. Atau karakter yang perlu dialek bahasa suku tertentu, dan banyak lagi. Kadang saya suka gemes sendiri, kalau mendengar teman yang belum mencoba sudah bilang seperti ini “ aduh, suaraku jelek” , atau “aku gak bisa dubbing”. Buat saya pribadi, berlatih menjadi pengisi suara harus dicoba berulang kali. Lha wong belum juga berlatih atau mencoba mengulang latihan, kok udah pasrah dan nyerah wkwkwk. Berlatih gak cukup belasan kali, mungkin perlu seratus kali, it takes time. Apalagi zaman sekarang, teknologi makin canggih. Berlatih dan merekam suara sendiri cukup pakai ponsel, dan bisa dilakukan sesukanya dimana saja.



Well, menurut saya semua keahlian sulih suara atau pengisi suara (Voice Over Talent atau Dubber) ini bisa dilatih. Keahlian yang bisa dipelajari semua orang dari berbagai kalangan. Keahlian melakukan Voice Over bukan eksklusif milik para profesional yang berkecimpung di dunia penyiaran semata. Meski mayoritas program berita di stasiun televisi menggunakan voice over dari para jurnalisnya atau karyawannya. Pekerjaan voice over talent di sebuah stasiun televisi, ibaratnya seperti job desk tambahan. Sedangkan sebagian besar pekerjaan Voice Over Talent atau Dubber di dunia penyiaran secara umum, konon merupakan  pekerjaan freelance atau part time job, biasanya dubber menerima honor sesuai proyek. Artinya masih banyak peluang bagi masyarakat untuk terjun ke dunia sulih suara. Menjadi seorang  Voice Over Talent atau Dubber tak terhalang usia lho. Salah satu contohnya para dubber untuk tokoh-tokoh di film kartun Doraemon, semuanya orang dewasa bukan anak-anak. Kekurangan yang dimiliki seseorang seperti pengucapan atau pelafalan huruf r yang kurang sempurna, atau biasa disebut cadel, juga tak menutup rejeki seseorang untuk berprestasi di bidang penyiaran. Banyak juga penyiar radio yang sukses meski memiliki kekurangan tersebut. Lagi-lagi, kebutuhan Voice Over sangat spesifik tergantung keunikan suara masing-masing.


Lihat saja di era tahun 2000an, bermunculan Youtuber atau Vlogger yang berhasil memikat hati para penonton setianya. Ini artinya dunia digital, multimedia atau dunia audio video ini terbuka bagi siapapun yang mau dan berani mencoba. Tentunya perlu disesuaikan dengan karakter diri ya, gak perlu ikut-ikutan gaya orang lain. Sudah banyak terbukti kan, sejumlah artis atau orang biasa memperoleh job alias ketiban rezeki karena sering memunculkan keahlian mereka di media sosial. Gak ada salahnya kok mengikuti langkah positif mereka. Contoh lain, banyak orang biasa yang berbakat menyanyi bikin rekaman lagu atau menggunakan aplikasi smule yang gak kalah sama penyanyi aslinya. Banyak juga para penyanyi profesional yang mengawali karirnya mulai dari menyanyikan lagu milik orang lain (cover song) di channel Youtube. Menurut saya, apapun keahlian yang dimiliki bisa dieksplor secara positif dan ditampilkan dalam media sosial. Misalnya memasak, membuat prakarya, melukis, membuat kaligrafi, dll.  I believe that for positive contributions, there is no limit & there is no boundaries on the digital world.


Kembali ke dunia per-dubber-an tadi, kalau di Indonesia saya belum menemukan komunitas berskala nasional yang mewadahi para Voice Over Talent, Dubber atau orang-orang yang memiliki minat serupa untuk memperluas peluang kerjasama. Apa saya yang #kudet ya hihihi. Ada beberapa komunitas yang saya temui di internet, namun rasanya belum merangkul atau mewadahi para Voice Over Talent atau Dubber se-Indonesia. Beberapa platform yang saya temui di internet, sifatnya lebih seperti bidding proyek alias tender. Sepertinya belum ada platform yang mewadahi dan mempertemukan pihak dubber dan klien yang bener-bener pas buat masyarakat Indonesia. Wah bisa jadi ide bisnis nih :)

Kunci Menjadi Voice Over Talent
Balik lagi ke pengalaman pribadi. Menurut saya, beberapa kunci dasar dalam mendubbing naskah berita seperti, pelafalan atau pengucapan kata harus jelas, intonasi harus tepat, tone atau nada suara harus sesuai, bagaimana menyelami naskah. Yaa, menjadi seorang pengisi suara perlu memahami isi naskah. Saya kadang seperti berkhayal atau bermain drama, tergantung naskah beritanya. Merupakan hal penting untuk bisa ikut merasakan kesedihan atau kegembiraan naskah. Misalnya ketika mengisi suara untuk naskah bertema kesedihan, seperti profil kakek yang tinggal di gubug bekas kandang kambing, nada suara kita juga harus bisa memunculkan aura kesedihan tsb. Tentunya, sebagai Voice Over Talent wajib mempelajari hal-hal baru, melatih vokal, teknik pernafasan, cara bicara, aksen dll. Terlebih lagi bila melakukan voice over dalam bahasa asing atau menggunakan istilah asing.

voice over talent
sumber: Shutterstock
Bicara soal cita-cita atau keinginan, saya pribadi ingin bisa memperluas pengalaman dubbing untuk TVC maupun PSA. Cita-cita jangka panjang, saya pengen membuat kursus atau pelatihan untuk news voice over atau voice over program berita. Namanya juga angan-angan, boleh lah mengantungkan cita-citamu setinggi langit seperti peribahasa. Duh jadi curcol nih hehe...By the way, kalau mau dengerin contoh-contoh voice over saya, please check youtube channel saya ya.

Terimakasih sudah membaca tulisan ini, bila berkenan silahkan berkomentar & nanti saya mampir balik ke blognya.

See U 

25 comments:

  1. Wah senangnya kalau punya suara yang renyah dan gurih seperti mba Mutie. Hehhehe. Tapi memang harus berlatih sih buat menemukan mana suara yang tepat. Tapi aku jujur nggak pede, mba. Tapi kalau diminta nyanyi, aku pede :p. Aamin. Smoga cita2nya terkabul ya mbaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayoklah private training sama aku hehehe, dijamin lancar dalam 1 minggu. Kan tipe suara orang beda-beda, jadi cocok-cocokan juga tergantung tema beritanya. Voice over buat iklan komersil juga beda, menurutku yang paling susah dubber buat film kartun, telenovela berseri, sandiwara radio dsb karena basicnya seni drama.

      Delete
  2. Hallo mbak salam kenal ya.
    Seneng nih, ada temen yang profesinya engga asing sama dunia kerjaku. Semoga kursus atau pelatihannya segera terealisasikan ya mbak.

    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, salam kenal juga. Iya mba, moga kita bisa berkolaborasi kalau ada proyek yang cocok hehe

      Delete
  3. Temenku voice over di Inews.. Suka deh kalo udh dgr suara dia.. Padahl dulu pas zaman sekolah perasaan suaranya biasa.. Tp spertinya makin besar, makin terlatih kali yaa, jd pubya ciri khas kalo di denger. Berawal dr penyiar radio, sampe akhirnya dia bisa voice over :)

    ReplyDelete
  4. Ikut seneng bacanya,..aku juga pengen banget belajar dubbing walopun sadar diri ama suara yang minimlais 😃. Ditambah pengetahuan yang minim soal dubbing. Makin gak pede.

    Semoga cita citanya tercapai ya mbak,...jadi pengen ngekor cita cita mbak mutie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, bisa ikut pelatihan yang diadakan komunitas dubber. rasanya gak ada batasan usia untuk menjadi dubber :)

      Delete
  5. Mbak..ide bikin pelatihan oke banget memang, mungkin bidang ini belum banyak dilirik padahal punya potensi rejeki tinggi karena belum banyak yang menggeluti..
    Semoga sukses rencananya yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, senang kalau bisa berbagi. Ilmu dubbing atau voice over ini berguna juga buat para blogger yang juga hobi bikin vlog, supaya bisa menceritakan dengan bahasa & tone yang pas hehe

      Delete
  6. Wah baru tau mbak kalau tiap orang bisa jadi dubber, karena seringkali orang bilang suaranya jelek.. setuju poin itu, heheh.. salam kenal mbak saya Dewi. Semoga impiannya tercapai ya mbak, jangan lupa buat komunitas nasional mbak, MB mutie aja yang merintis��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga mba, iya nih pengen ada komunitas khusus di bidang voice over :)

      Delete
  7. Mbak Muthieee jadi vlogger juga keren yaa hihihi. Saya suka banget baca blog ttg dubber, maklum suka nonton drakor di tv sama film India haha suka penasaran sama orang pengisi suaranya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba, kalau buat drakor atau film asing umumnya lebih lazim menggunakan istilah penyulih suara atau dubber. Saya belum jadi vlogger mba, masih menikmati di belakang layar aja hehe

      Delete
  8. Waaaaaaaaa Mbak Mutiiiiiie saya pengen banget bisa jadi dubber :')))

    Saya dulu pernah siaran 3 tahun di radio kampus. Bawain program acara musik KPop sama English program gitu. Cuma karena range-nya radio kampus, aksen medok saya nggak jadi masalah. Nah, kalau misal masih medok gini, ngelatihnya gimana ya biar aksen kedaerahannya enggak terlalu kentara? Karena kok saya perhatikan, demand dari voice over ini nggak banyak ruang untuk suara dengan aksen medok jawa kayak saya hahhaha


    xoxo,
    honeyvha.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba bisa ikut bergabung di komunitas dubber atau casting di studio sulih suara. Aksen medok supaya gak terlalu kentara,perlu dilatih mulai dari percakapan sehari-hari

      Delete
  9. Memang enak kalau lagi ada job voice over karena dibayar tapi dari hal yang kita seneng.

    ReplyDelete
  10. waah pengen jadi dubber, tapi di kota aku kayanya jarang bahkan hampir gak ada lowongan kayak gini.

    ReplyDelete
  11. Saya termausk yang belum pede ma suara sendiri. Makanya kalau bikin vlog pun, diusahakan gak ada suara saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku ajarin mba Myra ya, mau gak? atau sekalian aku bikin training buat para blogger aja hehehe

      Delete
  12. suka gemes sama suara mbak-mbak yang nge-voice over video liputan tentang traveling gitu. Itu loh kayak yang di halal living IMS. Kedengarannya khas banget dan tertata gitu intonasinya.

    Ngomong-ngomong salam kenal ya mbak muti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga mbak, iya setiap orang kan punya suara khas.

      Delete
  13. Halo mbak. Cara nya jadi dubber gimana ya? Sayang kalo ilmu akting ku tidak di manfaat kan. Soal nya dulu kuliah ku di tuntut bisa akting, menjiwai, bahkan di suruh nulis naskah. Maklum lah jurusan bahasa. Pengen banget deh jadi dubber

    ReplyDelete